Surat Kedelapan: Kepada KH Abdul Gaffar Ismail

Kepulangan dilakukan dengan kapal kecil bernama Rahmat menuju Pekanbaru, melewati blokade dan badai. Dalam satu momen genting, Kiai berpesan kepada Taufiq yang beranjak remaja, “Kamu kab bisa berenang. Peganglah kotak kayu ini bila kapal karam. Jangan pegang yang lain. Cukup kotak ini saja.” Kalimat itu sederhana, namun menjadi simbol pegangan moral dalam badai sejarah.

Dari Sungai Pakning hingga Pekanbaru, dari Bukittinggi hingga lereng Gunung Singgalang, Kiai menjelma jembatan antara fatwa dan fakta, antara semangat jihad dan kebutuhan logistik yang nyata. Tanpa jalur logistik yang Kiai koordinasikan, mungkin bambu runcing tetap menjadi satu-satunya sahabat para pejuang menghadapi tank dan meriam Belanda. Air asin Selat Malaka bukan hanya saksi perdagangan, tetapi saksi masuknya alat-alat kemerdekaan yang dikirim oleh seorang ulama yang tidak gentar pada maut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kiai, semua itu bukan sekadar kisah heroik. Itu adalah garis api yang kelak menjalar ke dalam puisi-puisi putra bapak. Dari maut di laut hingga sarang harimau di Bangkira, dari pasar gelap Singapura hingga subuh di Juwana, sejarah menorehkan tinta darah yang tak kasatmata. Dan saya, dengan segala keterbatasan, hanya berusaha merangkainya kembali agar generasi hari ini tahu: kemerdekaan pernah dibeli dengan gula, lada, dan keberanian seorang KH Abdul Gaffar Ismail.

Tahun 1947 pula, ketika Padang dan wilayah Sumatra Barat kembali diguncang agresi militer Belanda, anak lelaki Kiai, Taufiq Ismail, baru berusia dua belas tahun. Usia ketika seorang bocah mestinya mengenal permainan, bukan letupan senapan. Namun sejarah tidak pernah menunggu kesiapan kanak-kanak. Ia memanggil, bahkan menyeret.

Surat pengantar untuk buku skenario yang saya tulis ini tidak lahir semata-mata dari kekaguman saya kepada sosok sastrawan terkemuka Indonesia, Taufiq Ismail. Buku skenario ini juga tidak ditulis untuk menyanjung karya dan kiprahnya dalam kesusastraan Indonesia. Bahkan, kelahirannya tidak bertumpu pada sebutir pasir pengetahuan saya tentang keluasan wawasan dan panjangnya proses kepenyairannya. Buku ini justru lahir dari kegelisahan: bagaimana sejarah membentuk seorang penyair, dan bagaimana seorang ayah menanamkan keberanian pada anaknya, bukan lewat petuah, melainkan lewat tindakan.

Taufiq Ismail lahir dan tumbuh di tengah tiga gelombang zaman: Indonesia yang baru saja merdeka namun belum sepenuhnya berdaulat, menguatnya komunisme di tanah air, dan runtuhnya Orde Lama hingga Reformasi 1998. Tiga fase sejarah itu bukan latar, melainkan ruang tempa. Pada usia dua belas tahun ia menyaksikan rakyat melawan penjajah. Ketika dewasa, ia menyaksikan bangsanya terbelah oleh ideologi. Dan pada fase berikutnya, ia menyaksikan bagaimana cita-cita reformasi tergerus oleh kepentingan dan ambisi.

Namun jauh sebelum ia dikenal sebagai penyair Angkatan ’66, sebelum Manifes Kebudayaan dan majalah Horison, ia telah lebih dahulu dibaptis oleh sejarah. Tahun 1947, usianya dua belas tahun, ia ikut Kiai berlayar menuju Singapura. Perjalanan itu bukan pelesiran, melainkan bagian dari jaringan bawah tanah perjuangan Republik. Rempah-rempah Sumatera—yang berabad-abad mengundang kolonialisme—kali ini menjelma alat barter demi senjata bagi tentara Indonesia yang kemerdekaannya belum utuh.

Dalam catatan revolusi fisik, jalur Singapura adalah nadi tersembunyi. Ketika Belanda memblokade laut, para pejuang menggantungkan harapan pada kapal-kapal kecil, pelabuhan abu-abu, dan jejaring dagang yang tak tercatat resmi. Anak-anak dan keluarga kerap dilibatkan agar tidak dicurigai. Di dalam palka kapal, rempah disembunyikan. Di balik layar, masa depan Republik dipertaruhkan. Taufiq kecil berada di tengah pusaran itu. Ia belajar bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit, melainkan dirakit dari kecerdikan, keberanian, dan kemungkinan kematian.

Di titik inilah peran Kiai layak dibaca ulang. Selama ini Kiai dikenal sebagai ulama Sumatera Barat yang disegani. Namun dalam revolusi, Kiai adalah bagian dari jejaring senyap yang menentukan arah Republik. Kiai menjalin hubungan dengan para perantau Melayu di Singapura—pedagang, ulama, simpatisan Republik—yang menjadi simpul distribusi logistik dan pembelian senjata. Di ruang tak tercatat itulah sejarah bergerak.

Bagi Taufiq Ismail, Kiai bukan sekadar ayah, melainkan teladan etis. Ia menyaksikan seorang ulama turun dari mimbar menuju risiko paling nyata di medan laga. Nilai keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab tidak diajarkan sebagai teori, tetapi dialami sebagai denyut hidup.

Sejarah masuk ke tubuhnya sebagai ketegangan riil. Sumatera Barat dibumihanguskan. Setiap pagi harus mengungsi ke Gunung Singgalang. Anak lelaki seusianya menjadi sasaran. Bahkan ada masa ketika ia bersama Kiai berlari mendaki Singgalang untuk menghindari patroli Belanda. Dari ketinggian, ia melihat puluhan rumah dibakar. Pada suatu pagi yang genting, ia menyelinap ke sebuah gua berumput rapi, merebahkan diri tanpa sadar bahwa itu sarang harimau!

Kelak, puisi-puisinya tak pernah benar-benar jinak. Ketika ia memilih jalur ilmu—belajar kedokteran hewan dan peternakan—dan tetap menulis, sesungguhnya ia sedang merawat rasionalitas dan nurani sekaligus. Puisi baginya bukan pelarian, tetapi cara menjaga ingatan.

Tahun 1966 menjadi simpul lain. Keterlibatannya dalam Manifes Kebudayaan membuatnya disingkirkan dari ruang akademik, beasiswa dicabut, masa depan diputus secara administratif. Indonesia saat itu berada di ambang perubahan besar. Demonstrasi mahasiswa memenuhi jalan. Poster-protes menempel di tembok kota. Dalam pusaran itulah lahir buku Tirani dan Benteng.

Saya membayangkan suatu sore ketika ia datang dari Pekalongan dengan menaiki kereta, sambil membawa batik dagangannya yang ditenteng dalam tas sederhana. Di sela perjalanan niaga itu, terselip sebuah map lusuh berisi arsip puisi-puisinya—lembar-lembar yang lahir dari luka sejarah dan kegelisahan batin yang panjang.

Stasiun Gambir Jakarta riuh oleh hiruk-pikuk keberangkatan, peluit kereta memekik, langkah manusia saling berdesakan tanpa sempat saling menatap. Di tengah kerumunan yang tergesa dan tak mengenal ampun itu, map lusuh tersebut hilang. Arsip puisi yang dibawanya dari perjalanan jauh, lenyap seketika, seolah ditelan arus manusia. Betapa sunyi kehilangan itu—bukan sekadar kertas yang raib, melainkan jejak pergulatan batin yang ikut terampas. Namun seperti Republik yang pernah terancam hilang lalu bangkit kembali, puisi pun menemukan jalan lahirnya kembali. Dan di kemudian hari, Arief Budiman menjadi salah satu saksi intelektual yang membaca zaman melalui keberanian moralnya, sebagaimana Taufiq membaca sejarah melalui kata-kata.

Tinggalkan Balasan