Tapi tenang, Bang. Meski Indonesia kalah telak, kecintaan warga Indonesia baik di Indonesia sendiri maupun di Jepang tak berkurang seujung kuku pun. Tentu hal ini berbeda dengan kecintaan para politisi—yang selalu berteriak “demi negara”, tapi diam-diam mencuri uang dari negara.
***

Tidak, Bang. Dalam surat ini saya tak ingin membahas cerpen Liontin—yang tragis, sadis, sekaligus satir. Bukan karena angkot, latar cerpen itu, kini sudah jarang terlihat di jalanan Jakarta, tapi karena saya malas mengeluh soal hal-hal klise.
Saya juga tak akan membahas novel Ketika Lampu Berwarna Merah, apalagi Sampah Bulan Desember. Toh dua masalah klasik itu tetap tak kunjung selesai. Sampah penyebab banjir? Katanya urusan sepele bagi pemerintah. Klise, Bang.
Yang pasti, Bang Hamsad,
Dalam bus ini—dengan selimut, kursi sleeper, dan colokan USB—saya tidak akan komplain kepada sopir untuk memutar lagu Indonesia Raya sebagaimana tokoh-tokoh dalam cerpen Lagu di Atas Bus itu. Karena bagi saya, lagu kebangsaan itu bukan sekadar didengar. Tapi karena Indonesia Raya adalah bagian dari napas kami—napas Indonesia. Maka, di mana pun, Indonesia akan selalu tegak dan hidup dalam denyut kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nah, Bang, bagaimana kalau kita kenang saja sejoli dalam cerpen Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?
Ah, Bang Hamsad—bisa saja menulis cerpen yang begitu relate dengan hidup zaman sekarang. Dalam perjalanan seperti ini, mana mungkin kita ngobrol soal tambang emas atau nikel di Raja Ampat? Saya pun tak punya cukup data—meski bisa saja saya copas dari sana-sini, lalu unggah dengan judul bombastis. Yang penting: klik, baca, atau tonton. Seperti para konten kreator yang comot sana-comot sini, lalu unggah. Beres! Bukan lagi soal kepedulian pada tanah dan lingkungan di Raja Ampat. Yang penting: likes, subscribers, dan viewer count.
Nah, Bang Hamsad…
Bagaimana kabar sejoli dalam cerpen Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?
Judulnya saja sudah bikin pipi merona dan dada bergetar macam kelapa muda digoyang angin sore. Cerpen ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ini drama romantis yang dilumuri pasta gigi sensasi dingin dan dibungkus selimut kenangan mantan. Bayangkan: dua sejoli, entah jatuh cinta, tergelincir cinta, atau cuma tersandung nostalgia—berdiri di antara cemburu dan rindu, serta ludah yang nyangkut masa lalu.
Laki-lakinya? Tipe sok cool, tapi hatinya selembut bantal hotel bintang empat. Perempuannya? Manis, agak sinis, tapi tetap bikin penasaran. Ia tahu lelaki itu belum sepenuhnya bersih dari jejak masa lalu—tepatnya: bekas bibir perempuan lain! Dan alih-alih marah atau bikin drama level sinetron, dia datang dengan tawaran… yang aduhai: “Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku… dengan bibirmu?”
Wahai pembaca, siapa bisa menolak rayuan selirasa itu? Ini bukan gombalan receh. Ini sudah masuk ranah puisi dada—ranah di mana ludah jadi lambang kasih, dan bibir adalah palet kenangan. Cerpen ini bukan cuma bermain di ranah asmara, tapi juga menyentuh eksistensi: Apakah cinta bisa benar-benar baru, atau ia selalu datang dengan jejak masa lalu?
