Selain karena hal-hal semacam itu, kecintaan bangsa Indonesia terhadap bahasanya sendiri memang terlihat semakin berkurang. Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi pada bahasa Indonesia, melainkan juga pada bahasa-bahasa daerah.
Contoh nyata saja tetangga di lingkungan rumah saya, para mama muda sudah banyak yang membiasakan mengasuh anak kecilnya dengan berbahasa asing. Ungkapan “No, no, no” sudah lebih familiar terdengar ketika sang anak akan melakukan sesuatu yang dilarang, dibanding dengan ungkapan berbahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Beberapa bahkan memang sudah membiasakan percakapan sehari-hari di dalam rumah dengan bahasa asing. Tidak ada yang salah, namun sebenarnya hal kecil seperti ini memiliki dampak yang tak kecil terhadap eksistensi bahasa asli kita.

Jadi kiranya yang dianggap susah dari bahasa Indonesia itu adalah formalitas atau bahasa bakunya. Penggunaan bahasa Indonesia nonformal lebih populer di kalangan bangsa kita sendiri. Sehingga pelajaran bahasa Indonesia yang tentunya memuat materi tentang teori berbahasa yang baik dan benar (baku) terasa susah untuk dipahami karena jarang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
