Biasanya, taftisul kutub dilakukan menjelang ujian semester. Kegiatan ini menjadi rintangan pertama bagi para santri agar bisa naik kelas. Hal ini bukan sekadar memeriksa kemampuan akademis santri, namun juga mengukur seberapa besar kedisiplinan dan kerajinan mereka. Dari taftisul kutub itu akan ditemukan para santri yang selalu hadir dan mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi ada juga yang sebaliknya.
Kegiatan taftisul kutub diawali dengan pengumpulan kitab-kitab kuning yang sudah dikaji selama satu semester. Dikumpulkan berdasarkan kepemilikannya. Satu kelas biasanya ada lima mata pelajaran, jadi satu santri mempunyai lima kitab. Setelah itu, kitab akan diperiksa oleh para ustaz satu per satu. Jika ustaz melihat ada kalimat-kalimat yang kosong tidak ada maknanya, beliau akan memanggil si pemilik kitab. Santri pemilik kitab akan ditanyai perihal makna kalimat tersebut atau diminta untuk membaca kitab tersebut apakah benar atau tidak. Jika si santri bisa menjawab maka hal tersebut akan jadi maklum.

Beda halnya jika yang kosong maknanya bukan satu dua kalimat, tapi satu halaman, setengah halaman, atau bahkan setengah kitabnya. Mereka akan dikenakan sanksi berupa dilarang mengikuti ujian. Namun, mereka masih diberi kesempatan untuk ikut remedial atau her. Dengan syarat harus melengkapi kitab tersebut dalam tenggat waktu tertentu. Jika masih tidak bisa, maka santri tersebut tidak bisa ikut ujian atau remedial dan bahkan tidak bisa naik kelas.
Saya punya pengalaman yang cukup pahit ketika tiba tradisi taftisul kutub ini. Sebagai santri ngalong yang kadang tidak bisa hadir karena suatu hal, kitab yang penuh dengan makna sulit untuk diwujudkan. Biasanya, jika ada makna yang tertinggal, saya akan meminjam kitab teman dan menyalin maknanya. Tetapi tulisan yang sangat kecil dan perbedaan penulisan membuat cara itu cukup sulit. Cara lainnya adalah meminta tolong mereka membacanya dan kita menyimak serta menulisnya.
Namun, saya bersyukur karena diberikan kemampuan yang lebih dalam bahasa Arab oleh Allah. Saya menjadi lebih mudah memberikan makna karena kebanyakan kata di dalam kitab tersebut sudah saya pahami.
