Viral Satu-Satunya Jalan Keadilan
Kemenangan rakyat Raja Ampat melalui gerakan #SaveRajaAmpat yang berhasil memaksa pemerintah mencabut sebagian besar izin tambang adalah bukti bahwa kekuatan rakyat masih hidup. Namun, sebagaimana disampaikan Iqbal, kemenangan ini tetap menyisakan luka karena harus diraih dengan susah payah, melalui tekanan publik, bukan dari kebijakan yang berpihak secara natural.

Dalam logika Islam, ruang hidup yang layak adalah bagian dari haqq al-insan, hak asasi manusia. Jika negara dan lembaga-lembaga besar agama abai terhadap hak ini, maka mereka sedang menggugurkan salah satu amanah tertingginya. Suara rakyat kecil, komunitas adat, dan alam semesta seharusnya didengar sebelum mereka terpaksa viral. Keadilan ekologis tidak boleh menunggu trending topic.
Etika Tambang dari Pesantren
Pesantren hari ini dituntut untuk tidak hanya menjadi tempat belajar kitab kuning, tetapi juga pusat advokasi keberlanjutan hidup. Dunia pesantren punya modal besar: etika spiritual, keberpihakan terhadap yang lemah, dan jarak yang dekat dengan realitas sosial. Maka, pesantren harus berani bicara: bukan hanya menolak bad mining, tapi juga menolak sistem yang melanggengkan bad governance, bad justice, dan bad faith dalam pembangunan.
Sudah saatnya NU sebagai organisasi mereposisi ulang keberpihakannya dalam isu tambang: apakah ingin berpihak kepada maslahat jangka pendek, atau maslahat hakiki yang menjamin kelestarian bumi, keadilan sosial, dan keberlanjutan generasi?
Jika bumi ini amanah, maka pengkhianatan terhadapnya adalah dosa berjamaah. Dan diam terhadap kejahatan ekologis bukanlah netralitas, tapi bentuk keterlibatan yang halus. Maka, pesantren harus menjadi suara kenabian yang berani bersuara: bumi bukan untuk ditambang, tapi untuk dijaga.
