TANAH-TANAH DOSA
Aku meminjam magrib mengkhatamkan selembar firman,
bersimpuh di atas rumah Tuhan,
menghafal bayati yang diberi seorang guru,
mengulang nuansa shoba di antara tajwid saktah,
dan menunggu suara bilal pecah,
dari dinding-dinding ibadah.

Aku bukan rasul,
bukan pula santri yang kerap bertaharah dari lautan nafsu,
tapi di tanah ini,
kurasa dosa sungguh pasang.
Orang-orang menjinaki hutan dengan panas besi,
mencipta tumbang pepohonan, bangkai-bangkai hutan, bukit rompal,
dan tak pernah tahu,
tentang celaka hari kemudian.
Andai akhirat muhal kutapaki,
dan surga-neraka tak lagi bisa kubaca,
di tanah manakah aku mesti berpuasa,
sebab tempatku melahirkan haus pada jabatan,
juga rasa lapar kekuasaan.
Andai akhirat serupa perahu,
ke dermaga manakah aku pantas berlabuh,
sebab aku hanya penumpang,
tak menghapal,
pulau-pulau perompak.
Kota Langsa, 12 Februari 2026.
PERAHU INGKAR
Lalu aku membayangkan Kan’an
Lari dari seruan yang memberinya darah dan daging.
Dilepas susur pada suluh yang lata,
ia menutup gemetar di balik gunung yang bukan Ararat,
dan ia percaya,
yang maha di mata tetaplah raja pepohonan,
lebih besar ketimbang Tuhan,
lebih perkasa menampung curah,
lebih mampu merayu bandang.
“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”
Di ujung bahtera,
Nuh mendaras nama-nama di balik bilik kayu,
dan mengetahui si jantung badan,
telah pergi bersama ingkar.
Nuh berkata:
“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”
Aku membayangkan perempuan,
yang namanya tak termaktub lembar al-qur’an,
memilih karam sebagai liang.
Hari itu di bawah langit,
