Diskusi ini disesuaikan dengan genre buku yang mereka dapatkan. Contohnya, jika sedang tapa baca buku dengan tema sejarah dunia, maka santri yang membaca genre tersebut akan berdiskusi seputar sejarah dunia.
Kegiatan seperti ini juga dimaksudkan untuk membekali santri dengan wawasan yang luas dan kemampuan public speaking yang baik. Bagaimana santri akan memiliki pengaruh positif pada masyarakat jika mereka pasif? Maka dengan belajar menuangkan gagasan dan bertukar pikiran, mereka diajarkan untuk lihai dalam berdialog, serta menghargai perbedaan pendapat melalui diskusi ini.

Menghidupkan budaya membaca di lingkungan pesantren menurut penulis sendiri merupakan jihad untuk menjaga tradisi keilmuan yang telah diturunkan sejak zaman Nabi. Hal ini tidak hanya bisa diwujudkan dengan membangun perpustakaan yang megah secara fisik. Namun harus dengan membangun kultur dan ekosistem di mana membaca dan berdiskusi menjadi sebuah rutinitas. Maka tak salah ketika pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee menjadikan program “wajib baca” sebagai program unggulan. Membaca buku tidak lagi dicap sebagai kegiatan “santri kurang kerjaan” atau “kerjaan santri yang tidak bisa membaca kitab kuning”, namun menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap perjalanan intelektual santri.
Jika zaman dulu santri dikenal karena sarung dan kitabnya, maka zaman ini santri harus lebih mengenal literatur-literatur di luar keislaman. Dengan demikian, membaca buku merupakan bentuk aktualisasi santri agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan identitas.
