Tapa Baca, Jihad Literasi ala Santri Annuqayah

Tradisi pesantren tidak bisa dipisahkan dari budaya membaca. Pesantren yang dikenal sebagai institusi keislaman tradisional yang mendidik manusia menjadi muslim sejati, memang seharusnya tetap merawat budaya membaca. Sejarah pun mencatat, wahyu pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad adalah perintah iqra’! (Bacalah). Maka sepantasnya bagi seorang muslim sejati, budaya membaca harus tetap dilestarikan. Jikalau ada tempat di mana buku atau kitab diperlakukan dengan takzim, ya pesantrenlah tempat itu.

Secara historis pun awal munculnya kata santri itu sendiri adalah berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Tentu, dalam konteks ini santri identik sebagai orang yang mampu membaca kitab klasik ataupun turats yang berisi teks-teks ajaran Islam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun dunia terus berkembang. Pemaknaan dari kata “membaca” yang asalnya hanya difokuskan pada tekstualis-ritualistik harus dikembangkan lagi menjadi lebih luas. Literatur umum di luar teks-teks tradisional juga harus menjadi santapan sehari-hari.

Mengingat pentingnya membaca dengan pemaknaan luas tersebut maka, Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Sumenep, khususnya kompleks Rayon KH Ahmad Basyir AS, membuat program yang diberi nama “Wajib Baca”. Wajib baca dalam berbagai genre buku, mulai dari tema keislaman seperti kepesantrenan, ke-Annuqayah-an, Nahdlatul Ulama (NU), sejarah Islam, Nabi Muhammad, fikih, tasawuf, dan rauhid.

Terdapat juga literatur umum, seperti sastra dunia, sejarah dunia, sastra Indonesia, umum populer, serta Madura.

Jadi, santri di samping mempelajari dan mendalami ilmu keislaman melalui kitab turats, juga disiapkan agar tidak gugup dalam menghadapi realitas dunia saat ini. Dengan mengetahui berbagai ilmu yang ada saat ini, santri tidak akan terlihat kolot di mata orang luar, sebagaimana stereotip yang telah ditanamkan orang-orang sejak dulu.

Program wajib baca ini meliputi kegiatan “tapa baca”. Dalam kegiatan tapa baca ini, para santri setiap malam Kamis diwajibkan dalam waktu tertentu untuk membaca bersama. Ini bertujuan membangun kultur membaca untuk melestarikan budaya membaca agar tidak berhenti di tengah jalan. Dengan adanya kultur tapa baca tadi, diharapkan santri terbiasa melakukan kegiatan membaca secara istikamah dan teratur.

Selain itu, santri tidak hanya diajarkan untuk aktif membaca, namun juga dituntut untuk dapat aktif dalam mengemukakan pendapatnya. Selain tapa baca, juga diadakan kegiatan diskusi.

Diskusi ini disesuaikan dengan genre buku yang mereka dapatkan. Contohnya, jika sedang tapa baca buku dengan tema sejarah dunia, maka santri yang membaca genre tersebut akan berdiskusi seputar sejarah dunia.

Kegiatan seperti ini juga dimaksudkan untuk membekali santri dengan wawasan yang luas dan kemampuan public speaking yang baik. Bagaimana santri akan memiliki pengaruh positif pada masyarakat jika mereka pasif? Maka dengan belajar menuangkan gagasan dan bertukar pikiran, mereka diajarkan untuk lihai dalam berdialog, serta menghargai perbedaan pendapat melalui diskusi ini.

Menghidupkan budaya membaca di lingkungan pesantren menurut penulis sendiri merupakan jihad untuk menjaga tradisi keilmuan yang telah diturunkan sejak zaman Nabi. Hal ini tidak hanya bisa diwujudkan dengan membangun perpustakaan yang megah secara fisik. Namun harus dengan membangun kultur dan ekosistem di mana membaca dan berdiskusi menjadi sebuah rutinitas. Maka tak salah ketika pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee menjadikan program “wajib baca” sebagai program unggulan. Membaca buku tidak lagi dicap sebagai kegiatan “santri kurang kerjaan” atau “kerjaan santri yang tidak bisa membaca kitab kuning”, namun menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap perjalanan intelektual santri.

Jika zaman dulu santri dikenal karena sarung dan kitabnya, maka zaman ini santri harus lebih mengenal literatur-literatur di luar keislaman. Dengan demikian, membaca buku merupakan bentuk aktualisasi santri agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan identitas.

Pada akhirnya, santri yang masih alergi atau bahkan berhenti membaca buku adalah santri yang mengorbankan potensi intelektualnya tetap stagnan, tertinggal di masa lalu, sementara realitas dunia terus bergerak menuju masa depan.

Tinggalkan Balasan