Tempat Paling Gelap, di Manakah Itu?

Kita kembali pada sajak di awal. Maulana Rumi seakan menyindir kita, dengan kalimat yang demikian halus namun sarat akan makna. Pada kata ‘kekasih’, seperti adalah seruan bahwa sebenar-benarnya kekasih adalah Allah dan manusia adalah pecinta.

Kita semua adalah tamu di rumah Allah. Dunia seisinya adalah milik Allah, alam semesta milik Allah, semuanya milik Allah. Jika manusia adalah pecinta dan Tuhan adalah kekasih, maka betapa seorang pecinta akan merasa sangat merana, bila di suatu waktu ia berada di rumah kekasih, sedangkan di situ tak ada kekasih. Sama halnya dengan manusia yang tak menyadari Tuhannya, sementara ia berada dalam jagat ciptaanNya. Manusia yang demikian ini akan merasakan kegelapan, kehampaan dan kelalaian yang membawa pada kebingungan. Sementara segala aktivitas sehari-hari yang tanpa didasari cinta akan terasa begitu berat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan benarlah perkataan yang menyebutkan bahwa jika seseorang sedang jatuh cinta, apapun akan dilakukan dengan semangat dan senang hati teruntuk kekasihnya. Agama juga demikian, jika kita menjalani laku agama tanpa didasari rasa cinta, maka sholat, puasa, bersedekah, dan macam-macam kewajiban lainnya akan sukar kita kerjakan. Maukah kita tersiksa dengan tidak berusaha mencintai Allah, padahal kita tahu bahwa segalanya adalah fana, kita bakal meninggalkan dunia dan isinya ini.

Tinggalkan Balasan