Santri Menulis

Teori Menulis Santri: Commonplace Book dan Nazam Alfiyah

Keinginan saya menulis ini lagi-lagi dipicu oleh sebuah keheranan yang mengusik akal. Mengapa manusia, sejak zaman Yunani Kuno, masa kejayaan Islam, hingga era digital hari ini, selalu memiliki obsesi yang sama, yakni menyediakan sebuah buku khusus untuk mencatat kutipan, hikmah, dan potongan informasi yang mereka jumpai?

Akal saya menduga, ada sebuah kecemasan eksistensial yang universal di sana—kecemasan akan rapuhnya memori manusia. Di Barat, tradisi ini menemukan bentuknya dalam metode yang disebut commonplace book. Ia bukan tak hanya buku harian (diary) tempat kita menumpahkan curahan hati atau kejadian harian yang remeh. Bukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Commonplace book adalah sebuah “gudang memori” eksternal. Di sanalah para pemikir besar seperti Aristoteles, Marcus Aurelius, hingga tokoh modern seperti Bill Gates, mengumpulkan, menyortir, dan mendokumentasikan serpihan gagasan, anekdot, dan kutipan berharga untuk masa depan mereka.

Namun, keheranan saya berubah menjadi rasa takjub yang mendalam ketika menyadari bahwa jauh di belahan bumi yang lain, para ulama hadis kita telah merumuskan “aturan main” dari metode ini dengan sangat puitis dan rigid.

Dalam kitab Alfiyyah as-Suyuthi, tepatnya pada nazam nomor 589, tersimpan sebuah kaidah emas yang berbunyi:

“Idza katabta qammis… tsumma idza rawaitahu fafattis.” (Jika engkau menulis, kumpulkanlah apa saja… kemudian jika engkau hendak meriwayatkannya, maka periksalah dengan teliti).

Sungguh saya tertegun merenungkan sebaris bait ini. Di dalam tradisi intelektual Islam, aktivitas mencatat ternyata memiliki dua fase suci yang saling melengkapi.

Fase pertama adalah qammis—kumpulkan, raup, lahap dan catat apa saja yang melintas di hadapanmu tanpa perlu banyak menyortir terlebih dahulu. Ini adalah fase memperkaya isi dada dan lembaran kertas.

Gagasan ini dipertegas oleh Ibrahim bin Auramah al-Ashbahani yang terekam dalam kitab Fathul Mughits karya Imam as-Sakhawi. Beliau berkata: “Tulislah dari setiap orang (yang engkau temui), maka jika engkau hendak menyampaikannya, engkau punya pilihan (untuk menyaringnya).”

Prinsip inilah yang melahirkan raksasa intelektual sekelas Abdullah bin al-Mubarak. Beliau dengan bangga menyatakan: “Aku membawa ilmu (mencatat) dari empat ribu orang, namun aku hanya meriwayatkan dari seribu orang saja.”

Bayangkan! Ada tiga ribu catatan yang sengaja beliau “endapkan” di dalam buku catatannya, yang tidak pernah beliau sampaikan ke publik, namun tetap menjadi gizi bagi kedalaman jiwanya.

Di sinilah benang merah itu terajut dengan indah. Apa yang disebut dunia Barat modern sebagai commonplace book sejatinya adalah manifestasi dari perintah qammis dalam tradisi kita. Kita membaca, mendengar, lalu mengikat makna-makna itu ke dalam sebuah wadah bernama tulisan.

Lalu, apa dampak dari aktivitas memadukan baca-tulis yang terstruktur ini bagi kemanusiaan? Filsuf klasik Inggris, Sir Francis Bacon, pernah menelurkan sebait kalimat yang sangat terkenal: “Reading maketh a full man. Conference a ready man. Writing an exact man.”

Jika kita bedah secara cermat, analisis Bacon ini menyiratkan tiga tahap pembentukan karakter manusia yang utuh lewat literasi.

Yang pertama, “Reading maketh a full man,” jika saya terjemahkan, kurang lebih jadi begini: “Membaca menjadikan seseorang berwawasan luas”. Ia seperti wadah yang terus diisi oleh pengetahuan dan ide. Membaca memperkaya karakter dan mendewasakan kepribadian.

Potongan kedua, “Conference a ready man,” terjemahannya: “Berdiskusi menjadikan seseorang siap sedia”. Komunikasi dan sosialisasi memperluas wawasan mental, membuat akal kita tanggap dan cerdas dalam menghadapi ketidakpastian hidup.

Dan yang terakhir, “Writing an exact man,” terjemahannya adalah: “Menulis menjadikan seseorang teliti dan akurat”. Inilah puncaknya.

Menulis adalah aktivitas yang tunduk pada aturan ketat—tata bahasa, tanda baca, dan logika berpikir. Maka, seseorang yang terbiasa menulis akan dipaksa mencapai ketepatan dalam pandangan mentalnya. Ia menjadi berhati-hati dalam berkata-kata karena pikirannya telah terstruktur dengan baik.

Kembali ke pertanyaan mendasar: Mengapa kita harus repot-repot membuat commonplace book atau mempraktikkan kaidah qammis ini?

Sebab, ilmu yang hanya mengandalkan hafalan kepala sering kali menguap diterpa angin kesibukan zaman. Membaca tanpa melanjutkan dengan menuliskan apa-apa yang telah dibaca, lambat laun akan terasa sia-sia. Dengan mempraktikkan nazam Imam as-Suyuthi di atas, kita sedang dipandu untuk memperlakukan pengetahuan dengan adil.

Pada tahap awal, jadilah pengumpul yang lahap. Catat kutipan dari buku yang kita baca, rekam nasihat guru yang kita dengar, dan ikat kilatan ide yang tiba-tiba muncul di kepala. Lalu, ketika tiba saatnya kita harus berbicara, menulis esai, atau mengambil keputusan di dunia nyata, masuklah ke tahap kedua: periksa kembali catatan itu, saring, cari yang paling akurat, dan gunakan dengan bijak.

Pada akhirnya, peradaban Islam maupun peradaban Barat tidak pernah dibangun oleh orang-orang yang sekadar “mendengar lalu melupakan”. Peradaban meninggi karena ada manusia-manusia yang mau menyelenggarakan kegiatan membaca dan menulis secara terpadu, konsisten, dan kontinu. Melalui selembar kertas di dalam commonplace book kita masing-masing, mari kita ikat kembali cahaya ilmu agar ia tidak lekas padam di telan zaman.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan