Ternyata Sahabatku Anak Presiden

Belum lama ini, para siswa kelas 5 SDIT Al-Jihad Pedes, Karawang, Jawa Barat, mengikuti mata pelajaran (mapel) Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di bawah bimbingan guru Asep Wahyudin.

Salah satu tugas mapel P5 adalah menulis fiksi. Tujuannya menumbuhkan kemampuan anak-anak menulis fiksi. Pada tahap awal siswa diajarkan melukis dengan kata-kata, seperti melukiskan suasana pasar, sekolah, statsiun, dan lain-lainnya. Kemudian, siswa diminta menulis akhir sebuah cerita. cerita awalnya ditulis oleh gurunya, diajarkan juga menggambarkan watak dan tokoh, membuat alur cerita, dan menentukan judul. Sebelum diarahkan pada tema Bhineka Tunggal Ika sesuai dengan tema P5, pada tahap awal siswa diminta menulis fiksi mini bebas berdasar imajinasinya. Berikut adalah sebagian karya yang ditulis mereka, dimuat secara utuh tanpa sentuhan editing.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rumah Angker
Karya: Zahra Azisi

Pada suatu hari ada seorang cewek bernama Klarin, dia pindahan dari kota Jakarta  ke Desa Pelatan, sebuah desa yang masih sepi, dia pindah karena dipindah tugaskan sebagai guru. Setiba di desa itu dia langsung membersihkan rumah yang akan dia tempati, rumah itu sangat kotor, karena sudah lama tak ditinggali.

Dan akhirnya saat larut malam dia ingin memasuki kamar tidurnya, tetapi sayup terdengar suara Perempuan

“Pergi….pergi..pergilah!”

Karena ngantuk Klarin pun tak menggubris suara itu, buru-buru saja dia masuk kamar dan tertidur.

*****

Ketika pagi, Klari bergegas mau mandi, tapi di kamar mandi dia melihat sesosok wanita berambut panjang, Klarin pun membatalkan rencana mandinya dan bergegas pergi ke mini market. Melihat Klarin datang dengan ketakutan. Kasir mini market itu langsung bertanya

“Mbak ini orang baru ya?”

“Iya, ada apa ya?”

“Tinggal di mana?”

“Tinggal dirumah yang dekat warung seblak.”

“Rumah kosong itu! Itu kan ada penunggunya, mbak nggak diganggu!”

Klarin kaget dan terdiam cukup lama. Lalu dia mendengar suara sangat jelas ditangkap telinganya

“Pergi, pergiiiilah, ini rumahku!”

****

Ternyata Sahabatku Anak Presiden
Karya: Abimanyu Agneba

            Di suatu hari aku dan sahabatku pergi ke sekolah, kami duduk satu meja dekat jendela, sahabatku ini namanya Rusli, bila istirahat kami selalu pergi bersama ke kantin, terlihat dia selalu banyak bawa uang.

“Uang jajanmu banyak ya Rus?” tanyaku.

“Nggak kok, aku Cuma dikasih uang lebih aja sama orang tuaku.”

Aku belum pernah ke rumahnya, hingga pada suatu hari aku harus ke rumahnya karena ada kerja kelompok. Ternyata dia punya rumah yang sangat besar, aku pun terkejut! Kata pelayan yang ada di rumahnya, Rusli adalah anak Presiden. Aku merasa heran, karena selama ini Rusli tidak pernah cerita.

Rumah Untuk Nadin
Karya: Gevia Revanya Muttahar

Pagi ini Nadin akan pergi ke sekolah, dia sudah bersiap untuk  berangkat dengan dijemput oleh Sang Abang yang sudah berpisah rumah karena abangnya ikut dengan ayah dan Nadin ikut bersama sang bunda. Sebenarnya abang Nadin Sangat benci kepada Nadin, karna menurutnya Nadin adalah orang yang menghancurkan hidupnya seperti pecahan kaca.

Saat abangnya sudah sampai di depan rumah dia hanya menunggu di luar pagar. Saat Nadin keluar dia hanya berucap “Ayo naik” dan Nadin pun langsung naik membonceng.

Sesampainya disekolah abangnya langsung tancap gas. Di sekolah teman Nadin hanya  punya satu teman, itu pun kakak kelas, sedangkan Nadin kelas sepuluh, mereka bertemu hanya pas jam istirahat, Ketika bertemu pun mereka tak terlihat ngobrol apalagi bercanda. Setelah jam istirahat selesai mereka pun berpisah dan Kembali ke kelas masing-masing.

Tinggalkan Balasan