Terorisme Masuk Pesantren?

Apa yang diungkapkan BNPT tak bisa diangap remeh. Akan semakin beragam bentuk lembaga yang disarukan sebagai pondok pesantren, dan dari sanalah benih-benih radikalisme-ekstremisme-terorisme ditanam, kelompok-kelompok radikal-teroris membangun kekuatan. Menghadapi gejala seperti ini, semua pihak harus jeli mengantisipasi. Jangan sampai pondok pesantren rusak citranya oleh kepiawaian kelompok-kelompok radikal-ekstremis-teroris melancarkan propaganda. Jangan sampai pondok pesantren benar-benar terintrusi oleh radikalisme-ekstremisme-terorisme. Jangan sampai tak ada lagi santri yang memberi hormat kepada Koh Wi dan rombongannya di lain hari.

One Reply to “Terorisme Masuk Pesantren?”

  1. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT harus bertanggung jawab atas pernyataan bahwa ada banyak pondok pesantren yang terafiliasi jaringan terorisme. Meskipun dalam konteks logika, tidak mungkin sekelas badan BNPT akan mengeluarkan pernyataan tanpa adanya bukti yang dapat dipertanggung-jawabkan.

    Saya setuju dengan Kiai Mukhlisin bahwa temuan BNKT tidak dapat dipandang sebelah mata, diabaikan, atau remehkan. Meskipun pesantren mengedepankan nilai etik dan akhlak, bukan tidak mungkin ada orang yang berkepentingan untuk membuat kekeruhan dan mendeskriditkan eksistensi pondok pesantren.

    Menuntut BNKT untuk merilis pesantren yang terpapar, atau teriduksi paham ektrimisme, seakan sebuah nilai tanggung jawab atas pernyataan Boy Rafli Amar. Tetapi, kalau ditelisik lebih mendalam, mendaftar pondok pesantren yang terpapar radikalisme bukan solusi yang baik. Sebab merilis pesantren, yang note benenya, mereka bisa sangat niscaya tidak merasa teriduksi oleh paham kekerasan, akan menjadikan suasana yang semakin liar, keruh, dan melahirkan perseteruan. Siasat aling-idenitas merupakan satu hal yan seharusnya.

    Alangkah elok jika orang-orang yang punya otoritas, dari kalangan NU, ulama, ustaz, dan pemerhati pesantren berproaktif dengan cara “mujadalah hasanah” melakukan pendekatan terhadap BNPT untuk melakukan edukasi dan pemahaman Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Bersama-sama membangun suasana yang teduh, agar kondisi bangsa semakin menemukan titik kedamaian dalam suasana pluralisme yang begitu beragam. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan