Sebagai gambaran dari kespontanan tersebut, saya kutip puisi ketiga yang berjudul “Sinkronisitas” ini:
Tangan mengepal yang tidak kaugenggam
Kaki melangkah yang tidak kauinjak
Mata menatap yang tidak kaulihat
Hati ridho yang tidak kaurelakan

Bismillah, Insya Alloh
Tuhan menjaga lisan ini
Biquwwatillah, Alloh Akbar
Tuhan menuntun awak ini
Binashrillah, Alhamdulillah
Tuhan mudahkan jalan ini
Aku kini puisi!
Puisi-puisi Lebe Penyair tidak hanya fokus pada dunia kepenyairan serta hal-hal yang bersifat spiritual. Dalam sebagian puisinya, ia juga menyoroti kehidupan sosial kemasyarakatan hingga politik, di samping pandangannya perihal dunia global.
Yang menarik, pada sejumlah tema yang disasarnya selalu saja yang muncul adalah ungkapan-ungkapan spontan yang berkarakter lisan tanpa meninggalkan gaya repetisi kesukaannya. Konon penyair unik ini hafal di luar kepala seluruh puisi ciptaannya hingga jika tampil di atas pentas ia tidak pernah memegang teks. Dengan demikian tubuhnya menjadi lebih bebas bergerak, leluasa untuk merentangkan tangan, mengayunkan kaki, berguling-guling di atas lantai atau memanjat tiang atau podium. Dengan demikian, tubuhnya kemudian menjelma sebagai bahasa tersendiri dan memperkaya larik-larik puisi yang dibawakannya.
Sebuah puisinya yang menyoroti masalah sosial dalam konteks kehidupan sehari-hari berjudul “1000:100:1” menurut saya cukup berhasil dan menggugah. Ungkapannya sederhana, sedikit nyeleneh, namun punya kedalaman renungan dari sudut pandang seorang lebe, seorang naib, yang menghayati betul profesinya dalam hal menikahkan pasangan pengantin serta memulasara jenazah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes. Saya kutip utuh puisi tersebut di sini:
Tiap seribu tokoh masyarakat
Ada seratus orang yang memenuhi syarat di tengah umat
Tetapi hanya satu orang: diplomat
Yang hebat
Tiap seribu organisasi profesi
Ada seratus orang yang alami, sekarang ini
Tetapi hanya satu orang: creative minority
Yang berani
Tiap seribu peneliti
Ada seratus orang yang menolak basi
Tetapi hanya satu orang: cendekiawan
Yang menawan
Tiap seribu pencari rezeki
Ada seratus orang yang bersaing pasang aksi
Tetapi hanya satu orang: di jalan Illahi
Yang murni
Tiap seribu ahli bahasa
Ada seratus orang yang tangguh menatar diri
Tetapi hanya satu orang: seniman puisi
Yang luar biasa
Lebe Penyair memang tokoh fenomenal untuk wilayah Pantura. Makanya, tanpa segan-segan ia mendeklarasikan dirinya sebagai The Great of Pantura, mengikuti Sutardji Calzoum Bachri yang mendeklarasikan dirinya sebagai Presiden Penyair Indonesia pada dekade 1970-an. Dalam struktur kekuasaan, jika Sutardji adalah presiden yang membawahi provinsi-provinsi, maka Lebe Penyair levelnya setingkat residen yang membawahi beberapa kabupaten dalam satu wilayah. Sebuah kedudukan yang cukup bergengsi, jauh lebih tinggi dibanding para bupati apalagi camat, tentunya.
Tahun 2024 menjelang terbitnya kumpulan puisi Zombi Sajak Pantura ini, Lebe menulis sebuah puisi yang menggambarkan perjalanan panjang kepenyairannya selama ini. Sebuah refleksi terhadap posisi kesusastraan sekaligus gambaran ketabahan para salik yang menjadi pengikutnya menghadapi segala badai bencana kehidupan nyata di negara dunia ketiga.
Puisi tersebut berjudul “Sastrawan”. Cukup menarik untuk disimak sebagai penutup dari catatan apresiasi ini:
Selalu mimpi dan realitas berhimpit hingga renta
Aku menderita kepenyairan 27 tahun nyata
Sajak terus jadi aliran darah dalam diri
Tanpa ragu tanpa jeda tanpa sadar
Rasai dekapan Tuhan berbinar-binar
Ada haqul yakin tiap jengkal tanah
Wajib diri deklamasi membuat sejarah
Awal-akhir tahun torehkan prasasti
Nanti kalian pasti berstatus: saksi!
Saya mengucapkan selamat membaca bagi mereka yang sudah memiliki buku yang luar biasa ini. Tak lupa, selamat juga bagi Agus Tarjono alias Lebe Penyair atas terbitnya Zombi Sajak Pantura yang merupakan kumpulan puisinya yang perdana. Maju terus ke depan. Allohu Akbar.
