Sebelum acara Peringatan Hari Puisi Nasional yang dadakan itu, Lebe berkali-kali mengontak Sahaya Santayana untuk diminta menjadi MC namun tidak menyahut. Mungkin sedang sibuk on the road menuju kolam pemancingan ikan.
***

Rupanya, Agus Tarjono alias Lebe Penyair cukup populer di daerahnya, Brebes. Bahkan juga dikenal luas di wilayah Pantura, mulai dari Cirebon, Tegal, hingga Pekalongan.
Dalam kumpulan puisi perdananya yang berjudul unik Zombi Sajak Pantura ini, tak kurang dari lima tokoh, baik tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pendidikan, dan bupati memberikan testimoni yang positif untuk Lebe Penyair.
Selain yang sudah dikutip di atas, ada testimoni dari tokoh budaya Brebes, yakni Atmo Tan Sidik yang cukup menarik untuk disimak: “Setulusnya akulah yang menemukan dan menjulukinya sebagai Lebe Penyair. Sebab aku sudah mengenalnya sejak lama, yakni sejak bertemu di rumah dinas Bupati Safrul Supardi yang sekarang menjadi Hotel Kencana, lalu kembali bertemu lagi tahun 2002 ketika ia mengunjungi sastrawan legendaris Piek Ardiyanto Supriadi. Aku kaget penyair yang sekarang sudah menyandang gelar sarjana hukum ini, saat itu menangis sesenggukan layaknya anak kecil di depan idolanya. Dari situ aku menangkap dan memahami bahwa ada kegilaan ekspresif serta ada totalitas berpuisi dalam dirinya,” tulisnya.
Saya pertama bertemu dengan Lebe Penyair tahun 2005 saat ia tiba-tiba mengunjungi rumah saya untuk meminta ijazah kepenyairan. Saya juga merasa aneh waktu itu. Lalu pertemuan kedua terjadi di Tegal sekitar tahun 2007, saat saya diundang budayawan Nurhidayat Posso untuk mengisi sebuah acara sastra di kampungnya.
Ketika saya lagi santai minum kopi di rumah Nurhidayat pada sore hari, tiba-tiba ada tamu yang ingin bertemu dengan saya. Ia berdiri mematung di depan pintu. Dan, ketika saya mendekatinya, tiba-tiba ia merubuhkan diri dan bersujud sambil menangis sesenggukan. Saya bukan hanya merasa aneh, tapi sangat kaget dengan peristiwa itu. Dan, seperti halnya Atmo Tan Sidik, saya akhirnya paham bahwa penyair yang satu ini mempunyai kepekaan serta penghayatan di atas rata-rata. Ia gampang terharu dan keterharuannya tersebut diekspresikan dengan cara menangis. Belakangan setiap saya menyaksikan penampilannya di panggung, tak jarang ia juga meneteskan air mata di tengah aksi teatrikalnya yang unik dan sufistik.
Kumpulan puisi perdananya tidak kalah unik dan sufistik. Selain judul yang lain daripada yang lain, ilustrasi sampulnya juga fenomenal, berupa potret Lebe Penyair sendiri yang sedang berdiri gagah sambil merentangkan kedua tangannya di atas panggung. Lebe yang mengenakan peci tinggi dan jubah putih mengusik ingatan serta imajinasi saya pada sosok Jalaluddin Rumi yang sedang menari-nari di tengah majlis tarekatnya.
Kandungan puisi dalam kumpulan ini tidak banyak, namun halaman-halaman awal bukunya banyak dihiasi dengan sejumlah foto diri, salah satunya foto bersama saya waktu bertemu di Cirebon belasan tahun sebelumnya.
Lalu di bagian akhir pengantar ia menulis: “Mematangkan diri diiringi kiprah membawa nama Kabupaten Brebes terus diejawantahkan dengan tentukan pilihan deklamasi yang langsung disauk pada sosok panutan Rendra, sedangkan pilihan penulisan disauk pada sosok panutan Acep Zamzam Noor. Alhamdulillah seleksi sosial yang kualami tak kurang dari 27 tahun telah membuahkan serangkum muatan puisi di media massa. Datanya terefleksi dalam antologi tunggal ini.”
Puisi pertama dalam kumpulan ini berjudul “Bersatulah Perempuan-perempuan Penyair Brebes” yang mengingatkan saya pada judul salah satu puisi Rendra ini menyebut tak kurang dari sebelas nama perempuan, yakni Rizka Nurhidayah, Dita Fidyaning, Wiwit Widyarini, Drianah, Siti Maria, Sri Mulatsih, Elfi Sri Wulandari, Dwi Prasuciarti, Siti Wasalamah, Sis Triwanti, dan Zara Zitira. Puisi ini dipungkas dengan semacam pesan yang juga unik: “Kalian teruslah berpuisi hingga sisihkan penyair kampiun, kecuali Lebe Penyair,” tulisnya.
Puisi kedua berjudul “Tidak Main-main” cukup menarik bagi saya. Puisi ini ditulis tahun 2005 di masa awal kepenyairannya. Puisinya pendek, singkat, dan padat namun seperti gema yang meletup dari kedalaman dada yang kemudian menjadi tenaga bagi perjalanan kepenyairan selanjutnya. Bisa jadi puisi ini semacam kredo bagi dirinya sendiri bahwa ia tidak main-main dengan puisi. Puisi tersebut saya kutip seutuhnya:
Telah kutalak tiga tiap picisan
dalam kata
Kini malah tergila-gila
Dengan darah acuan karya
Membatu!
Puisi seharga hidupku
Kenapa saya mengatakan puisi di atas seperti meletup dari kedalaman dada, salah satunya karena saya merasa kata-kata yang tertulis itu keluar secara spontan dan ekspresif tanpa direncanakan, tanpa direkayasa atau dipoles-poles, tepatnya seperti mantra bagi seorang dukun. Bisa saja substansi dari ungkapan yang meletup spontan tersebut sudah mengendap lama dalam pikiran maupun perasaan, dan pada saat kematangannya tiba kata-kata tersebut langsung meletup ke luar.
Atmosfir mantra atau wirid semacam puisi di atas terasa hampir pada sebagaian besar puisinya dalam kumpulan ini, termasuk puisi-puisinya yang relatif panjang. Meskipun berbait-bait panjang, namun tetap diksi-diksi yang dipilihnya spontan, lugas, mengarah, dan sering di luar dugaan pembaca.
Puisi ketiga yang juga ditulis tahun 2005 masih berbicara mengenai puisi dan kepenyairan, masih dengan kespontanan yang ekspresif, namun kali ini memuat kandungan makna yang lebih kontemplatif layaknya hizib. Menurut sebagian orang, hizib dapat mensugesti siapa saja yang membaca atau mendengar hingga menggigil bahkan bisa sampai kesurupan.
Dalam berpuisi, Lebe Penyair memang termasuk yang kurang suka berindah-indah mengolah atau menghiasi bahasa dengan asesoris, meskipun demikian diksi-diksi yang meletup secara spontan dari tangan atau mulutnya seakan mengandung tenaga dalam kata-kata. Mengandung wirid, hizib, dan tentu saja sugesti. Lebe sangat percaya dan yakin dengan kekuatan serta keajaiban kata-kata, terutama pada kata-katanya sendiri.
