PETA DIKSI DI BALIK PETANG
Di balik foto yang berpendar usang, kita bertukar kata dalam surat, merajut harap yang kuncup. Aksara demi aksara ku mencoret membangun jalan di atas awan yang terpisah dengan bumi.

Kau ada dalam bentuk tinta diatas kertas, membawa warna pada sepi yang tak bertepi. Kita tertawa melalui bekas dan tanda, seolah raga sedang duduk berdua, bergurau bercanda.
Namun, jari ini hanya menyentuh foto dan balasan surat terakhirmu, saat rindu menuntut temu yang kian memijar, pesan terakhirmu membuat raga ini bergetar deras air mata jatuh tak terbendung.
Tak mampu memeluk kesunyian yang kian membentang, kita berada dalam dua titik di gelombang asmara yang berbeda kasta, saling sapa dalam doa namun tak pernah bertatapan mata ini.
Dekat dalam asmara, namun fana dalam nyata, terjebak dalam peta diksi dan bualan semata, sebab saat sentuhan kertas ini petang membara.
Segalanya terulang lenyap kembali kelam, kau hanyalah bayangan dalam ruang coretan tinta, sebuah interaksi indah, namun tak pernah terlaksana lama.
