Tradisi Nyate Bareng di Malam Zulhijah

Itu mungkin tamparan bagi saya. Saya yang dulu hanya menikmati momen ini dengan acuh tak acuh. Tahun keempat ini saya belajar bahwa yang dekat dengan kita dapat hilang begitu saja jika tak dijaga.

Iduladha memang mengajarkan tentang pengorbanan. Tapi di Annuqayah Latee, ia juga memberi pengalaman yang menyenangkan. Bahwa kebersamaan yang tulus tak butuh meja makan yang mewah, tidak butuh daging yang sempurna potongannya, cukup bara, tusuk sate, dan mereka yang mau repot bersama. Pesantren memang tempat yang aneh, tapi dari sana semuanya indah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin beginilah cara Iduladha di Latee bekerja. Bukan hanya tentang pengorbanan besar layaknya kisah Nabi Ibrahim, namun pengorbanan yang begitu sederhana. Saat seorang santri rela merasakan pedihnya mata agar kawannya bisa makan, meskipun dalam tusuk sate yang hampir gosong. Momen seperti ini tak akan ada di kurikulum mana pun.

Untuk itu semua, saya hanya dapat bersyukur. Bersyukur saya masih diberikan kesempatan untuk berada di momen-memen seperti ini, untuk mengenal orang-orang yang mengajarkan ketulusan meski mereka tak pernah merasa sedang mengajarkan apa pun. Bersyukur karena Tuhan menempatkan saya di tempat sespesial ini. Selalu. Untuk karunia yang tak pernah saya minta, namun sangat saya butuhkan.

Tinggalkan Balasan