Tak terasa memang sudah empat tahun saya merayakan Iduladha di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Sumenep, Madura. Setiap hari raya kurban ini, ada satu momen yang cukup spesial bagi saya: nyate bareng!
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini nyate bareng dilakukan pada malam setelah Iduladha atau malam 11 Zulhijah. Setiap kamar diberikan jatah masing-masing oleh panitia. Ada yang bahkan diberi 4 kg daging sapi karena kapasitas dan anggota kamarnya yang banyak.

Sejak sore hari para santri sudah sibuk menyiapkan momen tersebut. Memotong daging, menusuk daging, membeli bumbu dapur, hingga mencari pepaya sekaligus daunnya. Suasana di sekitar kamar-kamar seketika berubah riuh dan hangat. Gelak tawa berbaur dengan bau bawang dan daging, menciptakan romansa khas santri yang tidak akan pernah ditemukan di tempat lain.
Saya rasa inilah momen ketika sepotong daging menjadi media untuk merekatkan kebersamaan. Mulai dari yang bertugas mengipasi arang hingga matanya perih, yang sibuk meracik bumbu kecap dan sambal, sampai “tim hore” yang kerjaannya hanya berteriak memberi semangat lalu siap menyantap. Barangkali inilah momen yang akan selalu ada di sudut memori ingatan, bahkan bertahun-tahun setelah boyong nanti.
Bagi saya yang sudah melewati empat tahun di sini, aroma sate yang terbakar dan bisingnya obrolan malam itu selalu punya rasa yang sama, rasa kekeluargaan yang tulus. Tak peduli apakah dagingnya empuk atau justru agak alot karena potongan yang kurang rapi, atau apakah rasanya pahit karena gosong atau apakah bumbunya terlalu manis, semuanya tetap terasa nikmat karena dimakan bersama-sama di atas hamparan daun pisang, plastik seadanya, atau bahkan langsung diletakkan di atas lantai yang sudah digosok bersih sebelumnya.
Malam semakin larut, bara arang mulai meredup, dan tusuk sate berserakan di mana-mana, saya kemudian diam sejenak. Tentu saja karena kenyang. Tapi lebih dari itu juga saya sadar bahwa momen seperti ini tak akan terjadi selamanya. Saya senang dapat makan bersama, saya senang merasakan panas dan bara api bersama, saya senang bisa mendengar cerita mereka, saya senang bersama mereka.
