Bagi saya yang sudah melewati empat tahun di sini, aroma sate yang terbakar dan bisingnya obrolan malam itu selalu punya rasa yang sama, rasa kekeluargaan yang tulus. Tak peduli apakah dagingnya empuk atau justru agak alot karena potongan yang kurang rapi, atau apakah rasanya pahit karena gosong atau apakah bumbunya terlalu manis, semuanya tetap terasa nikmat karena dimakan bersama-sama di atas hamparan daun pisang, plastik seadanya, atau bahkan langsung diletakkan di atas lantai yang sudah digosok bersih sebelumnya.
Malam semakin larut, bara arang mulai meredup, dan tusuk sate berserakan di mana-mana, saya kemudian diam sejenak. Tentu saja karena kenyang. Tapi lebih dari itu juga saya sadar bahwa momen seperti ini tak akan terjadi selamanya. Saya senang dapat makan bersama, saya senang merasakan panas dan bara api bersama, saya senang bisa mendengar cerita mereka, saya senang bersama mereka.

Tahun pertama, saya menikmatinya dengan polos. Tahun kedua, saya mulai hafal siapa yang semangat membakar dan siapa yang hanya duduk manis di belakang. Tahun ketiga, saya ikut repot sejak sore. Lalu, tahun keempat ini, saya lebih banyak merenung dan memperhatikan. Melihat wajah-wajah yang tertawa, mata-mata yang perih karena bara, hingga yang rakus makannya.
Rumi pernah bertanya dalam salah satu syairnya, “Di manakah aku semalam, dan di manakah akal sehatku? Kekasihku ada di hadapanku, namun aku malah pergi.”
