Transformasi “Ngaji Pasanan”

Di era digital sekarang, di mana HP dengan berbagai program aplikasinya bisa menembus jarak dan waktu, fenomena ngaji pasanan mengalami pergesan format. Kalau pada era pesantren kilat terjadi perbedaan pada materi dan netode pengajaran, pada era digital justru kembali pada pola lama dengan gaya yang berbeda. Maksudnya, yang dikaji adalah kitab-kitab klasik pesantren sebagaimana yang dibaca pada ngaji pasanan pesantren. Gaya ngajinya juga menggunakan gaya bandongan. Hanya, sarana dan suasana yang berbeda. Dulu ngaji pasanan sarananya hanya mikropon dan dilaksanakan di suatu ruangan, sekarang sarananya HP dan bisa dilaksanakan di mana saja. Dulu suasananya dekat tanpa jarak antara santri dengan kiai, sekarang secara fisik dipisahkan oleh jarak. Inilah gaya ngaji bandongan model baru.

Suasana Ramadhan kali ini bisa dikatakan sebagai momentum revitalisasi ngaji pasanan. Jika kita amati dunia medsos, akan terlihat para kiai muda sampai tua, yang ada di pesantren kota sampai pelosok desa, menyelenggarakan ngaji pasanan secara online. Mereka membaca kitab yang beragam, mulai yang ringan seperti hadits Arbain, Sulam Safinah, Ta’lim Muta’allim, Uqudullujain, dan sebagainya sampai kitab yang berat, seperi Shoheh Bukhari, Ihya’ulumuddin, Ashbah Wanadhair, AL-Hikam, Tafsir AL-Wasith, dan sejenisnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tampaknya, tradisi ngaji pasanan sebagai suatu bentuk transmisi keilmuan gaya pesantren mulai menggeliat dan berkontestasi dengan kelompok lainnya yang selama ini mendominasi dunia maya. Bisa dikatakan, sudah ada transformasi kesadaran di kalangan pesantren untuk memanfaatkan tehnologi informasi dan ruang mendia sosial sebagai sarana untuk menyebarkan (mendeseminasi) gagasan di ruang publik. Mulai ada kesadaran bahwa ngaji pasanan tidak hanya boleh diakses oleh kalangan santri pesantren yang datang ke pesantren, tetapi oleh siapa saja yang memiliki akses media online.

Selain itu, maraknya pengajian online selama Ramadhan kali ini juga mencerminkan terjadinya peningkatan skill para santri terhadap teknologi informasi. Selama ini, ruang dunia maya dan medsos hanya dikuasai oleh mereka yang bisa menggunakan teknologi IT. Kini, ketika para santri sudah mulai memiliki kemampuan menggunaan teknologi IT. Maka, pemikiran dan tradisi pesantren ikut memenuhi dan meramaikan kontestasi di ruang publik dunia maya.

Apa yang terjadi menunjukkan bahwa kemajuan teknologi informasi telah membuat ngaji pasanan mengalami transformasi. Ngaji pasanan tidak lagi dilaksanakn di pesantren, surau, atau masjid kampung dan hanya diakses oleh mereka yang datang ke pengajian. Kini, ngaji pasanan bisa diselenggarakan di mana saja, bisa diikuti oleh siapa saja dan di mana saja. Salah satu hikmah Corona, ngaji pasanan mengalami transformasi sehingga memenuhi dunia maya. Semoga berkah ngajinya dan Corona segera sirna, sehingga para santri bisa kembali ngaji di dunia nyata, tanpa harus mengurangi keramaian dunia maya.

Tinggalkan Balasan