Warisan Epistemologi Tafsir Kiai Basyir

Bagi kami yang tumbuh di lingkungan pesantren, tafsir bukan sekadar mata pelajaran. Ia adalah ruh. Di sela-sela aroma kertas kitab kuning, nama-nama besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ash-Shawi, hingga yang paling akrab di telinga santri, Tafsir Jalalain, menjadi santapan harian yang membentuk cara kami memandang dunia.

Metodologi penafsiran pun menjadi hal yang sangat fundamental, karena dengannya santri dapat menilai berbagai kitab tafsir yang mereka pelajari. Bukan hanya soal isi, namun juga konstruksi keilmuan yang dibangun dalam tafsir-tafsir tersebut, baik yang klasik maupun kontemporer. Apalagi, paradigma penafsiran terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Santri harus melek terhadap realitas ini. Sebab, tidak jarang berbagai tafsir yang ada mengandung unsur kepentingan kelompok tertentu atau bercampur dengan paradigma Barat. Bukan bermaksud menyalahkan paradigma mereka, namun sebagai bahan refleksi bahwa setiap kitab tafsir memiliki epistemologinya tersendiri. Santri perlu mengetahuinya agar bisa memilih mana yang sesuai dengan tradisi keilmuan mereka.

Saya pribadi, sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Sumenep, Madura, sejak awal nyantri sering mendengar cerita-cerita tentang kealiman almaghfurlah KH Ahmad Basyir AS dalam ilmu tafsir. Sebagai bukti, beliau menghasilkan sebuah karya berjudul Kitab At-Tafsir yang terdiri dari dua jilid.

Padahal, menurut cerita para senior dan salah satu putra beliau, Kiai Basyir hanya mondok sekitar dua setengah atau tiga tahun saja. Namun, kedalaman ilmu beliau—terutama dalam tafsir—sangatlah luar biasa. Sayangnya, saya tidak sempat belajar langsung atau bertemu beliau, karena Allah sudah lebih dulu memanggil Kiai ke sisi-Nya. Allahummaghfirlahu.

Di Annuqayah, kami diajarkan kitab Tafsir Jalalain serta Al-Qawaid Al-Asasiyah fi ‘Ulumil Qur’an karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Kami tidak hanya diajak menyelami isi kitab tafsir, tetapi juga mengenal keilmuan yang membangunnya, salah satunya Ulumul Qur’an yang termuat dalam kitab Qawaid Asasiyah tersebut.

Mengingat pentingnya ilmu tafsir, di lingkup Universitas Annuqayah pun disediakan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT). Di sana, santri diajarkan lebih luas lagi; berbagai kitab tafsir dikaji mulai dari Tafsir At-Thabari hingga Tafsir Al-Manar.

Kami juga dikenalkan dengan metode tafsir bi al-iwayah, tafsir bi al-ra’yi, hingga tafsir muqaran. Bahkan, hermeneutika pun tak luput dari kajian. Santri Annuqayah tidak hanya dituntut mengetahui isi kitab, tetapi juga melakukan penelitian terhadap epistemologi, aliran penulisnya, hingga konteks sosial saat tafsir tersebut disusun.

***

Saat siang hari, saat jam tak lagi jelas menunjukkan pukul berapa, saya merasakan kantuk yang luar biasa. Begitu saya merebahkan tubuh, tiba-tiba dimensi seolah berubah. Saya merasa berada di sebuah majelis pengajian yang hanya dihadiri beberapa orang. Tempat itu terasa sangat akrab: lantai dua Musala Latee.

Namun, yang membuat saya heran adalah sosok yang sedang memberikan pengajian. Beliau berpenampilan serba putih dengan sorban putih yang terikat di kepalanya. Beliau menoleh ke arah saya yang duduk tepat di sebelah kirinya.

“Kalau belajar Al-Qur’an harus menggunakan teosentrisme,” kurang lebih ucapan itulah yang saya ingat.

Tak salah lagi, beliau adalah Kiai Basyir yang sekitar delapan tahun lalu telah wafat. Saya begitu yakin itu adalah beliau meski saya belum pernah berjumpa secara lahiriah. Dengan air mata yang mulai berlinang, saya terbangun sembari terus mengingat peristiwa langka tersebut.

Satu kata yang tertanam kuat di otak saya: Teosentrisme. Sejujurnya, saya belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Saya pun mencoba menelusurinya di Internet. Di sana disebutkan bahwa teosentrisme adalah pandangan yang menjadikan Tuhan sebagai pusat dari segala sesuatu, termasuk sumber tertinggi moralitas, nilai, dan tujuan hidup. Dalam konteks tafsir, teosentrisme merujuk pada pendekatan yang menjadikan teks suci dan kehendak Tuhan sebagai satu-satunya otoritas kebenaran yang mutlak dan final.

Saya kemudian mencoba mengorelasikan pandangan ini dengan karya beliau, Kitab At-Tafsir. Dalam tesisnya yang berjudul “Epistemologi Kitab At-Tafsir Karya KH Ahmad Basyir AS”, Faishal Khair memberikan gambaran tentang bagaimana epistemologi dalam tafsir ini. Meski tidak disebutkan secara eksplisit sebagai “teosentrisme”, namun karakteristik, corak, dan metodologinya sangat kental dengan pendekatan tersebut.

Salah satunya adalah penekanan penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama. Misalnya, saat beliau menjelaskan hukum bagi pezina yang masih perawan dalam Surah Al-Isra’ ayat 32. Beliau menggunakan ayat lain, yaitu Surah An-Nur ayat 2, yang menjelaskan bahwa pezina perawan harus didera seratus kali. Tentunya masih banyak karakteristik teosentris lainnya dalam tafsir Kiai Basyir yang tidak bisa saya jelaskan secara menyeluruh di sini.

Hubungan antara kiai dan santri adalah ikatan yang sakral. Koneksi keduanya akan tetap terjalin selama santri menjalankan nilai-nilai yang diwariskan oleh kiainya, bahkan meski raga sang kiai telah tiada. Kiai Basyir, dengan warisan tafsirnya, akan senantiasa “hidup” di setiap sudut ruang Annuqayah Latee.

Benarlah kata Imam Syafi’i: “Banyak orang yang telah mati, namun kebaikan dan ilmunya tidaklah mati. Dan banyak orang yang fisiknya masih hidup, namun sejatinya di tengah manusia mereka telah mati karena tidak memberikan manfaat.”

Tinggalkan Balasan