Yang Merawat Kehidupan

“Mah, kamu tidak apa-apa?” tanya Mbok Atun.

“Kita sudah sama-sama tua ya, Tun!” kata-kata itu keluar dari bibir Mbok Salamah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sudah waktunya, Mah!”

“Iya, Tun. Cuma kita yang tersisa. Sudah banyak yang kita punya!”

Mbok Salamah memperlihatkan album kenangan yang ia simpan. Dihadapkan pula wajah keduanya pada cermin yang besar. Mbok Salamah menunjuki foto-foto di album itu yang menjadi saksi perjalanan hidup keduanya. Keduanya pun larut dalam kenangan dan senyuman.

“Kamu yang pasrah, Mah. Juga syukur. Gusti masih memberi kita umur.”

“Gusti-ku sedang mengujiku, Tun!”

“Sudahlah! Sudah lama gustiku mengujiku sendirian menjaga pura.”

“Kamu marah pada anakmu Darman yang menikahi Alifah? Atau anak pertamamu Guntari yang dinikahi Fadeli?”

“Aku tidak pernah mempermasalahkan pilihannya.”

***
Hari raya yang ditunggu itu pun tiba. Berbeda dari biasa, pintu rumah itu tak lagi terbuka. Pun pagi ini langit mendung dan raja siang malu menampakkan muka. Mbok Atun yang menyusul di belakang Darman dan Alifah mulai kebingungan. Pintu itu tak kunjung terbuka. Padahal, kemarin Mbok Salamah sudah biasa saja dan bersiap menjemput hari raya.

Mereka ketuk pintu jati itu berkali-kali. Tetap tak ada suara, atau tangan yang membukakan. Ketiganya bergantian memanggil dari arah belakang, samping, dan depan. Ketiganya mengamati dari jendela depan yang terbuka. Terlihat ruang tamu yang sangat bersih, meja kursi berjajar rapi, taplak yang baru diganti, dan aneka jajanan khas lebaran tersaji. Ada lagi beberapa paket sembako berjajar panjang di sudut ruang tamu, sangat banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Terpajang foto berukuran besar dengan gambar Mbah Syukur, Mbok Salamah, dan Ramadan yang masih dalam gendongan. Ketiganya terus memanggil nama Mbok Salamah, tapi tetap tanpa jawaban.
Berbekal gergaji dan tangga, Darman pun nekat naik dari belakang. Melewati atap yang beberapa hari lalu diperbaikinya, merayap dari genteng ke genteng, berharap ia bisa membuka celah-celahnya. Darman terus merangkak ke atas dan mencari jalan turun.

“Brakkk!” tubuh Darman terempas mengecup lantai.

“Darman! Darman!” Mbok Salamah berteriak dari dalam rumah.

Dibukanya pintu belakang rumah. Istrinya dan Mbok Atun ternganga mengamati Darman telentang dengan napas tersengal-sengal. Badannya tak bisa digerakkan. Mulutnya nirsuara; tatapan mata saja sarat makna.

“Doakan anakku, Mah! Doakan suamimu, Alifah!” pinta Mbok Atun berkali-kali.

Lafaz Allah terus-menerus keluar dari mulut Mbok Salamah dan Alifah. Dibisikkan secara bergantian dari telinga kiri dan kanan. Mbok Atun terdiam; tertunduk dalam doanya. Ketiganya pun menyaksikan, Darman perlahan-lahan kehilangan pernapasan. Tangisan pecah membelah celah rumah.

“Doakan anakku, Mah! Kuburkan Darman selayaknya!” pinta Mbok Atun lagi.

“Insya Allah surga untuk anakmu, Tun!”

“Semoga surgamu dan surga Mbokmu tidak jauh berbeda ya, Man!” ucap lirih Mbok Atun memandangi wajah Darman. Ditatapnya berkali-kali. Mungkin biar tidak salah orang tatkala dipertemukan di surga nanti. Rintik hujan pun turun. Membasahi daun-daun.

Tinggalkan Balasan