Dalam hati kecilnya, Mbok Salamah dibuat bingung sekaligus menimbun segudang kekhawatiran. Ia mulai berpikir apakah dunia sudah semakin koyak hingga beberapa kebenaran yang diyakininya kini berubah begitu rupa. Ilmu-ilmu yang ia dapati selama mengaji dulu bersama para kiai kampung atau dipetuahkan sang suami, seolah luntur begitu saja. Ia mau memberontak, tapi ia tidak memiliki daya untuk melawannya.
“Setelah salat tidak perlu salaman. Wiridan saya sederhanakan biar kita bisa segera pulang,” imbuh sang imam.

Mbok Salamah semakin menghela napas panjangnya. Setelah tarawih, tiada lagi tadarusan, atau sekadar jagongan* di teras musala. Tiada lagi anak-anak yang tidur di musala untuk nantinya mengadakan ronda, membangunkan sahur para warga dengan kentongan, jerigen, plat besi, atau alat seadanya. Musala segera terkunci dan terganti menjadi sepi.
Bukan Mbok Salamah namanya, sebagai janda pejuang veteran yang selalu punya semangat membara. Ia berpikir, hingga dalam senyap bersiap melakukan pemberontakan dan harus segera turun ke medang juang. Ia mengumpulkan argumennya untuk melawan sesuatu yang menurutnya aneh dan salah kaprah ini.
“Pak Rosyid, mengapa ke musala saja malah banyak aturan, seolah jadi larangan?” protes Mbok Salamah suatu ketika bertemu Pak RW.
“Kita hanya menaati perintah Mbok. Kita juga harus ikut mencegah wabah ini agar tidak menjangkiti desa kita,” jelas Pak Rosyid.
“Hanya musala saja! Itu warung kopi sebelah rumahmu, lapangan, atau jembatan ujung desa itu harus bersih dari manusia,” bantah Mbok Salamah tak mau kalah.
Setelah kejadian itu, desa semakin sepi. Saat matahari mulai berdiri di atas kepala manusia, jalanan masih saja lengang. Hanya beberapa saja yang lewat, itu pun untuk keperluan yang sangat penting: belanja, bertani, atau cari pakan sapi. Saat di musala, Pak RW lebih menjaga jarak dengan Mbok Salamah, takut diberondong pertanyaan sekaligus pekerjaan untuk dirinya. Pak RW mulai kewalahan memberikan jawaban.
Idul Fitri semakin mendekat. Mbok Salamah masih saja seperti biasanya, memikirkan apa-apa yang harus dipersiapkan menyambut Lebaran. Terlintas di benaknya wabah ini sudah usai. Rumahnya mulai dipenuhi tamu. Sebagai salah satu sesepuh desa, rumahnya selalu menjadi tujuan utama bagi semua warga: anak-anak , orang dewasa, sampai orang tua. Belum lagi, jika Mbok Atun ke rumahnya; menemaninya menyambut tamu, sesekali membantu membuatkan teh atau mengisikan lodong yang mulai kosong.
Di situlah terpancar rona bahagianya; disiapkannya uang saku dua ribuan untuk anak usia sekolah dan tak lupa bingkisan. Disiapkan puluhan dongengan cerita, bisa saja tentang riwayat desa, kisah zaman penjajahan, kisah perjodohan, nasihat untuk para remaja, dan lain sebagainya.
Belum lagi jika ia membayangkan Ramadan yang merantau ke Jakarta pulang dengan membawa menantu dan cucu-cucunya. Rumahnya menjadi hidup kembali. Dan hobi memasak itu mulai diasahnya. Ia akan memasak segala makanan berat dan ringan sebagai pengobat rindu bagi lidah Ramadan. Dan selama cucu-cucunya di rumah, Mbok Salamah akan mulai masak lontong, nasi jagung, pecel tumpang, soto, rawon, dan makanan tradisional secara bergiliran.
Untuk itu, Mbok Salamah sudah mulai menyuruh Darman dan istrinya untuk membantu mempersiapkan segala keperluan menyambut Lebaran. Mulai mengecat dinding yang pudar, memperbaiki atap genteng, menggoreng rempeyek, rengginan, kacang asin, membersihkan rumah, atau merapikan meja kursi.
“Mbok Salamah, kok repot sekali!” seru Pak Rosyid yang kebetulan lewat di depan rumahnya.
“Aku harus menjamu tamuku dengan sebaik-baiknya.”
“Mbok, ini tahun Corona. Tiada lagi anjangsana ke rumah tetangga.”
“Ya sudah, aku tidak terima tamu. Tapi, aku tetap menunggu pulang anakku,”
Mbok Salamah melemparkan sapu yang dipegangnya. Baru kali ini wajahnya sangat memerah, menahan kecewa dan amarah. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil di luar batas kewajarannya.
“Mbok, Mbok Salamah!” Darman sejenak menghentikan kegiatannya.
“Ramadan tidak bisa pulang, Mbok!” kata Darman sembari menunjukkan sesuatu di ponselnya.
Ramadan terbiasa menitipkan kabar dan pesan untuk Mbok Salamah melalui Darman. Disampaikannya dengan perlahan dan hati-hati sekali. Takut Mbok Salamah terpancing untuk melakukan reaksi berlebihan. Cucuran keringatnya membanjiri rerumputan halaman.
Hati Mbok Salamah semakin kalap. Ia merasa tak percaya dengan semuanya. Ramadan kali ini yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mbok Salamah beranjak masuk rumah, menutup pintunya rapat-rapat. Meski belum sepenuhnya selesai bekerja, Darman dan istrinya pun disuruhnya pulang dengan segera.
Berhari-hari Mbok Salamah mengunci diri di dalam rumah. Berkali-kali pintu rumah diketuk oleh Darman dan istrinya. Pintu rumah itu tak kunjung terbuka. Keduanya gigir dalam tanya apakah di rumah sebesar itu, Mbok Salamah menimbun pedihnya sendiri. Istri Darman yang terbiasa melayani Mbok Salamah pun mulai was-was. Kawatir penyakit jantung Mbok Salamah kumat; dan tidak ada yang merawat.
Akhirnya, Darman memanggil ibunya, Mbok Atun. Sudah hafal darimana harus memasuki rumah besar itu, Mbok Atun masuk dari pintu belakang. Memasuki dapur, ruang tengah, lalu kamar. Ia melihat Mbok Salamah tengah menggenggam album kenangan lusuh yang masih tersimpan.
