Pada hari Minggu (15/02/2026), Pondok Pesantren Nurul Huda Sukabumi (YASPIN) mengadakan kegiatan ziarah ke makam para masyayikh di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 H, sekaligus sebagai momen refleksi, muhasabah diri, dan penghormatan terhadap jejak keilmuan para ulama terdahulu yang telah berperan besar dalam perkembangan pendidikan Islam di Sukabumi.
Ziarah dipimpin KH Abdul Aziz selaku pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukabumi. Kegiatan ini diikuti oleh santri salafi, santri takhasus tahfiz, asatiz dan asatizah, alumni, serta keluarga besar ponpes Nurul Huda. Peserta berangkat dengan penuh semangat menggunakan 16 mobil pick-up dan 4 mobil pribadi milik keluarga besar pesantren. Kebersamaan dalam perjalanan ini menjadi gambaran kuatnya ukhuwah Islamiyah yang terjalin di lingkungan pesantren.

Rangkaian Ziarah
Perjalanan ziarah diawali dengan mengunjungi Pondok Pesantren As-Salafiyah yang didirikan oleh Almaghfurlah KH Abdullah Mahfudz pada tahun 1939. Selanjutnya, rombongan melanjutkan ziarah ke Pondok Pesantren Sirojul Athfal yang didirikan oleh Almaghfurlah KH Muhammad Kholilullah pada tahun 1956. Di setiap lokasi, rombongan membaca tahlil, zikir, dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri dan ulama yang telah wafat.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Sunanul Huda Cikaroya, yang didirikan oleh Almaghfurlah KH Uci Sanusi pada tahun 1936 dan saat ini ponpes dipimpin KH Fikri Ali Majid. Setelah itu, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Al-Masthuriyyah, salah satu pondok pesantren tertua di Sukabumi, yang didirikan Almaghfurlah KH Muhammad Masthuro pada tahun 1920. Pesantren ini dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat.
Tak berhenti sampai di situ, rangkaian ziarah terus berlanjut ke Pondok Pesantren Sabilul Huda yang didirikan Almaghfurlah KH Moch. Abdulloh Kosasih. Kemudian, rombongan pun berlanjut menuju Pondok Pesantren Miftahussa’adah yang berdiri sejak tahun 1920 dan didirikan Almaghfurlah KH Ahmad Junaedi. Saat berada di lokasi ini, hujan pun mulai turun, menambah suasana khidmat dan syahdunya lantunan zikir serta doa yang dipanjatkan oleh para guru dan santri. Suasana tersebut menjadi pengingat bahwa ziarah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
