Era Post-Truth: Runtuhnya Tembok Pesantren

Fenomena pergeseran otoritas keagamaan di Indonesia saat ini bukan sekadar perubahan medium dari pengeras suara masjid ke algoritma TikTok. Ia adalah sebuah anomali besar dalam sejarah transmisi ilmu.

Di tengah keriuhan era post-truth, di mana sentimen emosional lebih laku ketimbang akurasi data, wajah agama berubah menjadi komoditas visual yang instan. Kiai, yang secara historis merupakan poros ilmu dan moral, kini harus bersaing dengan layar ponsel yang menawarkan kepuasan spiritual dalam durasi enam puluh detik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Runtuhnya Tembok Pesantren

Secara historis, otoritas keagamaan di Nusantara bersifat hierarkis dan berbasis pada sanad (silsilah keilmuan) yang terjaga ketat. Dalam buku The Crescent in the East: Islam in Asia (1986), Michael C. Williams menggambarkan bagaimana kiai bukan hanya pemimpin ritual, melainkan jangkar sosial yang memediasi realitas duniawi dan ukhrawi. Murid atau santri harus hadir secara fisik, mengecap debu pesantren, dan menyerap karakter sang kiai melalui proses mulazamah.

Namun, sosiolog Bryan S. Turner dalam Religious Authority and the New Media (2007) menjelaskan bahwa teknologi digital telah melakukan de-monopolisasi otoritas. Tembok tinggi pesantren runtuh bukan oleh serangan fisik, melainkan oleh jaringan internet. Kini, siapa pun yang memiliki kemampuan retorika dan estetika visual dapat dianggap sebagai “ustaz”. Terjadi fragmentasi otoritas, rujukan keagamaan tidak lagi tunggal.

Fakta aktual menunjukkan bahwa Gen Z lebih sering mencari hukum sholat melalui mesin pencari atau potongan video pendek daripada membuka kitab Fathul Qarib. Layar ponsel menawarkan privasi dan kecepatan, sesuatu yang tidak selalu didapatkan dalam pengajian konvensional yang terikat protokol waktu dan tempat.

Dalam Kepungan Post-Truth

Di era post-truth, batas antara kebenaran dan opini menjadi kabur. Jean Baudrillard dalam karyanya Simulacra and Simulation (1981) memberikan pisau analisis yang tajam. Kita hidup di dunia di mana representasi (citra) dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Inilah yang disebut hyper-reality.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan