Rijal, Arip, Putri, dan Andik adalah empat sekawan yang membentuk aliansi selama SD. Kini mereka duduk di MA Swasta Fatahillah kelas XI. Selayak mafia Italia, empat kawanan itu telah menemukan bentuk kesamaan “visi-misi” meski minim aksi dan prestasi, meski dengan karakter yang berbeda, dan meski beda uang jajan.
Rijal, si aktivis organisasi pemuda, berharap jatah konsumsi sebagai tujuan utamanya, “aktivis takut lapar”. Arip gamers online yang selalu defeat karena ketika bermain mengandalkan tetring dari temannya. Saat permainan belum sampai selesai, temannya sering mematikan hot spotnya. Putri sang pesolek, tukang update status pamer dan sambat, penggemar berat drakor. Impiannya setelah lulus ia akan menjadi TKI ke luar negeri, dan anak majikannya bisa kepincut serta meminangnya (impian yang indah). Dan Andik, the woles boy, sifat santuy-nya kelas “wahidnya wahid”. Ia tetap mengaji di langgar Ustadz Umar, meski Iqra jilid 5-nya tidak naik-naik, ia tetap santuy dan woles motion. Ia tetap mengaji (salut!).

Pagi cerahku, matahari bersinar, menggendong tas dipundak, sebagai bentuk kepantasan anak sekolah seperti lirik lagu-lagu yang biasanya diputar dalam wisuda SMP. Rijal, Arip, dan Andik seperti biasa, menjemput Putri. Entah kawanan yang juga selalu kompak dalam nilai di bawah garis menengah KKM, tidak rela jika berangkat tidak lengkap anggotanya. “Puuut… Putri… ayo berangkat, sudah jam 7 kurang 15 menit ini!” seru Rijal.
“Bentaarrr to.…tinggal pakai pelembab dulu,” suara Putri dari dalam, tak lama ia keluar. “Adeehh…gak sabaran banget. Yang penting gak telat, lulus, lulus,” sungut Putri sambil semprot kanan-kiri ketiaknya dengan parfum delapan ribuan, kemudian memasukkannya ke dalam tas bersama kaca kecil, bedak, pelembab, lotion, pembersih muka, yang harganya di bawah sepuluh ribuan.
“Kamu itu niat sekolah apa niat menghadiri hajatan, make-up-an saja,” Arip menggerutu.
“Adeehh.., gak usah protes! Dasar cowok, gak ngerti urusan cewek. Ingat ya, cewek adalah perhiasan dunia. Jadi, ya harus pintar berhias.” Putri membela diri.
Tiba-tiba Andik menggumam lirih tapi terdengar, “Innalillahi wainna ilaihi rajiun…”
Semua tersentak, “Hah! Siapa yang meninggal, Ndik?”
Andik tersenyum, “Tidak, ini lo jam 7 kurang 10 menit, gak berangkat to?”
“Ko gak ngomong ?!?” semua kompak berteriak.
Andik hanya mengangkat jempolnya, “Siiip!”
Di tengah perjalanan, Rijal memulai pembukaan obrolan sebagai head lines, “Rek! Lama-lama aku kok muales sekolah, ya…”
“Kenapa, Jal?” Arip sedikit terkejut.
“Kemarin di TV aku lihat film ‘Alangkah Lucunya Negeri Ini’. Kemudian aku berpikir, kira-kira apakah sekolah ini penting apa tidak ya?”
“Makanya, lihat drama korea, Jal. Aktornya ganteng-ganteng, artisnya cantik-cantik, ya seperti aku ini, dijamin kamu gak mikir. Kalau mewek, iya,” Putri dengan sok bijak menasihati meski nasihatnya tidak terlalu berguna.
“Kalau kamu, Ndik?” tanya Rijal.
Andik yang super santuy pun tidak menjawab. Tersenyum, kemudian mengangkat jempolnya, “Siiiipp..!!”
Rijal pun membalasnya dengan mengangkat dua jempolnya untuk menghargai jawaban sekaligus tidak ingin melukai hati Andik. “Siipp kuadrat, Ndik!”
“Eh, beli hand body dulu yuk, itu di toko depan,” ajak Putri.
Mereka bertiga kompak mengangkat jempolnya. Sebelum masuk toko, terdengar keributan kecil pemilik toko. Mereka berempat pun menguping, karena tidak ingin mengganggu kekhusyukan pertengkaran pribadi.
“Pakne, anak-anak kita perlu melanjutkan sekolah, sampai sekolah tinggi! Harus pokoknya!” terdengar suara ibu pemilik toko.
“Bune, buat apa sekolah tinggi, semampunya kita saja. Lihatlah bapakku, tamatan SD, toh bisa naik haji,” sang bapak pemilik toko membalas istrinya.
“Sekarang jaman pendidikan Pakne. Anak-anak harus sekolah biar jadi orang,” istri tak mau kalah.
“Ia sekolah, tapi semampu kita saja Bune. Buat apa sekolah tinggi, kuliah, kalau tidak pintar cari duit,” suaminya tetap kekeuh berargumen.
“Harus kuliah, aku gak mau anak kita jadi pengangguran, dicap gak berpendidikan,” ibu pemilik toko mulai meninggi.
“Kuliah belum tentu bisa hasilkan duit Bune. Apalagi langsung dapat pekerjaan enak. Misal guru honorer itu, mereka kuliah tapi gaji mereka tidak lebih besar dari TKW.”
Putri yang mendengarnya cekikikan, seolah dirinya terbela, sambil melirik ketiga temannya. “Siipp..!”
