Kopi, Kitab, dan Kebudayaan

Banyak pesantren di seluruh pelosok negeri, yang di dalamnya terdapat tiga elemen sulit dipisahkan: kopi, kitab, dan kebudayaan.

Di waktu-waktu selepas subuh atau bakda Isya, suara santri mengaji bersahutan dari serambi masjid hingga pojok asrama, sementara aroma kopi panas menyeruak dari cangkir-cangkir sederhana yang menghangatkan malam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol keakraban, penanda dimulainya obrolan panjang, bahkan menjadi teman setia para pencari ilmu di pesantren. Kitab kuning pun bukan semata teks tua yang dibaca berulang, tetapi napas keilmuan yang hidup dalam setiap pertanyaan, perdebatan, dan renungan santri.

Di antara keduanya, tumbuh subur sebuah kebudayaan, yaitu budaya berpikir, budaya berdiskusi, budaya menulis, dan budaya merawat tradisi dengan cara yang segar.

Warung kopi bukan cuma tempat membeli minuman. Ia adalah ruang kelas alternatif. Di sanalah santri berdiskusi soal fikih dan filsafat, debat ringan tentang perbedaan mazhab, atau sekadar bertanya, “Kenapa ya, Imam Ghazali bisa nulis sebanyak itu?”

Tinggalkan Balasan