Wabah Covid-19 atau Corona Virus telah menjangkit di Indonesia setidaknya sejak triwulan terakhir. Hingga saat ini (20/6), pandemi Covid-19 telah menginjak angka 45.029 kasus positif yang dikonfirmasi melalui laman covid19.go.id. Angka ini terus mengalami peningkatan sejak warta nasional mengenai wabah ini dari bulan Maret lalu.
Banyak langkah-langkah konkret yang telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga yang terkait dalam penanganan Covid-19. Di antaranya, pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat pada masa awal pemberitaan mengenai pandemi ini. Lalu penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di banyak tempat, hingga pemberlakuan “New Normal” bagi wilayah-wilayah tertentu yang memiliki risiko penularan rendah dan memiliki track record baik mengenai kasus negatif Covid-19.

Dalam hal ini, muncul berbagai macam polemik yang mewarnai kondisi pandemi di Indonesia, khususnya bila dirujuk dari sudut agama Islam. Pada awalnya, banyak orang yang menyampaikan bahwa Covid-19 tidak harus dilawan dengan pelarangan-pelarangan yang bersifat publik, seperti ibadah di masjid dan perkumpulan majlis tertentu.
Asumsi dari pernyataan di atas adalah wabah yang disikapi sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah, yang mana Allah sendiri yang akan menghilangkannya, terkhusus bagi hamba-Nya yang beriman. Kiranya begitulah klaim yang disuarakan oleh beberapa orang di banyak kesempatan dan majlis-majlis pengajian.
Namun, apakah pernyataan tersebut berbanding lurus dengan perintah Nabi SAW lewat hadits? Dan, apakah benar Nabi SAW memerintahkan kita dengan hanya berdoa agar wabah ini hilang? Sekaligus bagaimana cara Nabi SAW dalam menghadapi situasi seperti ini?
Alat Identifikasi Wabah
Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alaudin Makassar Dr Arifuddin Ahmad, pada sebuah kesempatan, beliau menyampaikan pandangannya mengenai pandemi ini. Kondisi wabah Covid-19 cenderung memberikan pengaruh bagi manusia untuk senantiasa menggunakan akal sehat serta akal budi dalam mengatasinya. Tindakan ini harus disertasi dengan cara berpikir yang tepat (to think logically) dan kebijaksanaan dalam bertindak (to act wisely).
Lebih lanjut, Dr Arifuddin menyayangkan apabila hadits sebagai pedoman kedua ajaran Islam dikesampingkan begitu saja oleh semua orang. Seharusnya, hadits menjadi salah satu alat dan pertimbangan yang ampuh dalam mengatasi pandemi ini. Bahkan, sebagai bangsa Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, cenderung mengabaikan sila pertama untuk mengatasi problematika ini.
Apabila dirujuk secara menyeluruh, Rasulullah SAW telah memberikan indikasi awal terhadap kemunculan suatu wabah (tha’un) yang menjangkit saat itu. Menurut hadits riwayat Bukhari Nomor 3214 (dari Usamah bin Zaid) yang berbunyi,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
Artinya:
Rasulullah SAW bersabda, “Tha’un adalah sejenis kotoran (siksa) yang dikirim kepada satu golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian.”
Ditemukan informasi bahwa wabah bisa berasal dari rijsun yang dapat bermakna sebuah kotoran, yang indikasinya mengarah pada hewan. Namun lain daripada itu, wabah juga bisa berasal dari suatu mutasi genetika yang terjadi akibat rekayasa yang dibuat manusia.
Metode Penanggulangan
Ada empat langkah metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi wabah yang ada. Keempat cara tersebut meliputi promosi persuasif, pencegahan (preventif), pengobatan (represif), dan rehabilitasi.
Pertama, yang dimaksud dengan promosi persuasif adalah ajakan-ajakan yang masif kepada penduduk yang wilayahnya sedang terjangkit wabah. Ajakan tersebut dapat berupa peringatan dan bentuk kewaspadaan dini terhadap suatu musibah, sebagaimana yang tertuang dalam at Targhib wa at Tarhib (IV:125) karya al Mundziri (w. 656 H), yang berbunyi,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لرجل وهو يعظه اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya:
Rasulullah SAW memberikan pengajaran kepada seorang laki-laki, “Gunakan lima (hal) sebelum lima (hal): (masa) mudamu sebelum (masa) tuamu; (masa) sehatmu sebelum (masa) sakitmu; (masa) kayamu sebelum (masa) miskinmu; (masa) luangmu sebelum (masa) sempitmu; dan hidupmu sebelum matimu.”
