Sunah Nabi dan Komodifikasi Agama

Ramainya pembicaraan soal klepon yang tidak Islami dan konsumsi kurma sebagai manifestasi mengikuti sunah Nabi membuat saya termenung dan bertanya-tanya. Seingat saya, dulu memang banyak muslim Indonesia yang mengkonsumsi kurma, tetapi sepertinya hanya dilakukan secara massal saat bulan Ramadan. Konon, karena Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk berbuka dengan yang manis dan beliau kerap berbuka dengan kurma. Meskipun, ketika berbicara berbuka dengan makanan yang manis-manis, di Indonesia ada berbagai varian buah-buahan manis lainnya. Tetapi, tentu saja, sampai sekarang nampaknya orang terus “menyepakati” kurma sebagai satu jenis buah yang menempati posisi utama karena menjadi buah yang pernah dikonsumsi Nabi.

Beberapa tahun terakhir ini, nampaknya konsumsi kurma juga tidak melulu dilakukan saat bulan Ramadan. Dengan semakin berkembangnya wacana Islam di dalam budaya populer pasca-reformasi dan semakin mudahnya segala informasi diakses dan dibagikan melalui media sosial, berbagai aktivitas yang menunjukkan kesalehan dalam beragama begitu mudah dilihat sekaligus dipamerkan. Salah satunya adalah persoalan konsumsi produk yang diklaim sebagai produk Islami. Unggahan yang mendorong “hijrahnya” konsumsi produk dari yang (dianggap) tidak jelas asal usul dalilnya dalam agama ke produk yang jauh lebih Islami. Bersamaan dengan ramainya kampanye ini, juga semakin ngetren pula pengobatan-pengobatan ala Nabi menggunakan produk-produk herbal yang diklaim jauh lebih Islami dan memiliki asal usul riwayat yang jelas sampai ke Nabi Muhammad SAW.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tinggalkan Balasan