AI Masuk Pesantren: Inovasi atau Krisis Otoritas?

Gelombang Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi eksklusif milik industri atau kampus teknologi. Ia telah masuk ke ruang-ruang yang selama ini dianggap sakral dan tradisional: pesantren. Dari aplikasi penerjemah kitab turats, chatbot tanya jawab fikih, hingga sistem administrasi berbasis digital, AI mulai menjadi bagian dari keseharian sebagian santri. Pertanyaannya, apakah ini sekadar inovasi, atau justru awal dari krisis otoritas keilmuan?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pesantren tidak tinggal diam. Sejumlah lembaga mulai mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar-mengajar. Santri kini tidak hanya berkutat dengan kitab kuning, tetapi juga mulai akrab dengan perangkat digital. Di satu sisi, ini membuka akses pengetahuan yang lebih luas dan cepat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sisi lain, muncul kecenderungan baru: jawaban instan menggantikan proses talaqqi yang selama ini menjadi ruh pendidikan pesantren.

Fenomena ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Dalam tradisi pesantren, otoritas keilmuan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teks, tetapi juga oleh sanad, adab, dan relasi kiai-santri. Ketika AI mulai menjadi rujukan, bahkan tanpa disadari, terjadi pergeseran otoritas—dari manusia ke algoritma. Di sinilah problem utama muncul: apakah mesin bisa dipercaya sebagai sumber otoritatif dalam memahami agama?

Dalam perspektif sosiologi agama, perubahan ini menunjukkan adanya transformasi struktur otoritas. Otoritas tradisional yang berbasis figur perlahan bergeser ke otoritas berbasis sistem dan teknologi. Apa yang viral, cepat, dan mudah diakses sering kali lebih dipercaya daripada yang mendalam dan teruji. Ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi perubahan cara masyarakat memaknai kebenaran.

Pandangan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Melalui gagasannya tentang “Pribumisasi Islam” (1989), Gus Dur menekankan pentingnya menjaga nilai lokal dan kemanusiaan dalam menghadapi perubahan. Teknologi, dalam pandangan ini, bukan untuk ditolak, tetapi harus dikendalikan agar tidak menghilangkan substansi. AI boleh hadir di pesantren, tetapi tidak boleh menggantikan relasi manusiawi yang menjadi inti pendidikan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan