Ketika Kata-kata Menolak Dimakamkan

Aku ingin hidup seribu tahun lagi

Di atas adalah kutipan dari puisi Chairil Anwar, penyair yang lahir pada 26 Juli 1922 dan meninggal pada 28 April 1949.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kreativitas Chairil Anwar dalam mengeksplorasi puisi, hingga menemukan bentuk dan gaya baru dalam penulisan puisi-puisinya—yang juga tak banyak itu—membuatnya didapuk sebagai pelopor penyair modern Indonesia. Namun demikian, meski usia tak sepadan dengan keinginannya dalam larik “aku ingin hidup seribu tahun lagi”, tampaknya keinginan itu hanya berlaku bagi puisi-puisinya.

Kematian tak membuat sosok maupun puisi-puisinya terkubur. Seperti gema dari larik yang pernah ditulisnya, ia terus menerjang waktu, berlari di bawah luka dari generasi ke generasi. Karena itu, usia dan angka kematiannya tak berhenti sebagai catatan biografis semata, melainkan berubah menjadi penanggalan yang terus dikenang: hari kelahirannya dipanggil kembali, hari wafatnya disinggahi ingatan.

Ya, tanggal-tanggal biasanya hanya angka yang digantung di dinding, lalu dicoret pelan oleh waktu. Namun ada tanggal tertentu yang menolak selesai sebagai angka. Dua puluh delapan April adalah salah satunya: hari ketika seorang penyair meninggal, tetapi kata-katanya justru terus hidup dan beredar dalam bahasa kita.

Ya, Chairil Anwar, yang kerap diplesetkan sebagai si binatang jalang itu, meninggal dunia pada saat usia dan daya kreatifnya sedang bernas-bernasnya. Ia pergi ketika tenaga kepenyairannya tengah tumbuh liar, tajam, dan penuh ledakan.

Pada masa itu, puisi Indonesia masih banyak berada dalam bayang-bayang bentuk lama: terikat oleh keharusan rima, irama, nasihat, serta keteraturan bunyi yang sering kali lebih dipentingkan daripada pergulatan batin penyairnya sendiri. Puisi kerap bergerak dalam jalur yang sopan, tertib, dan dapat ditebak arahnya.

Lalu Chairil datang membawa kegelisahan baru. Ia menembus dinding pakem itu dengan bahasa yang lebih bebas, lebih personal, dan lebih berani menghadapkan puisi pada pengalaman manusia yang getir: kesepian, kematian, cinta, pemberontakan, dan hasrat untuk hidup sepenuhnya. Pada tangannya, puisi tidak lagi sekadar permainan bunyi, melainkan medan pertempuran jiwa. Larik-lariknya pendek, padat, mengentak, dan sering kali seperti pukulan yang langsung mengenai dada pembaca.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan