Sambut Tahun Baru Islam, Pesantren UII Gelar Muhasabah

Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (UII) Putri Yogyakarta menggelar muhasabah, Senin (15/6/2026). Acara yang diikuti seluruh mahasantri putri, ustaz, dan pengasuh ini berlangsung di asrama putri, kampus UII.

Melalui kegiatan ini, mahasantri diharapkan dapat melakukan introspeksi diri, memperbaiki niat, serta merenungkan berbagai perbuatan yang telah dilakukan sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam sambutannya, Pengasuh Pesantren UII Putri, Ustaz Tajul Muluk, mengajak mahasantri untuk berbahagia menyambut Tahun Baru Islam layaknya menyambut Tahun Baru Masehi. Ia juga menekankan bahwa pergantian tahun tidak hanya digunakan untuk mengevaluasi capaian akademik, tetapi juga untuk menilai kualitas keimanan diri sebagai seorang muslim.

“Semestinya kita sebagai umat Islam juga perlu untuk membuat renungan mengenai capaian keimanan selama satu tahun yang lalu,” ucapnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan membaca doa awal dan akhir tahun. Hal ini sebagai bentuk refleksi atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus ikhtiar mengawali tahun baru dengan niat yang lebih tulus.

Memasuki acara inti, penyampaian materi disampaikan oleh Ning Difani Wulan, mahasantri angkatan 2022 sebagai. Dalam kesempatan tersebut, tema yang diangkat yaitu “Kembali Menata Diri, Merenungi Makna Hijrah Nabi”.

Dalam pemaparannya, Ning Difani menjelaskan kisah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Peristiwa inilah yang dijadikan penanda awal penanggalan kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Menurutnya, hijrah memiliki makna yang sangat mendalam. Tdak hanya dimaknai sebagai perpindahan dari Mekkah ke Madinah, melainkan juga pengorbanan besar seperti meninggalkan keluarga, harta benda, dan tanah kelahiran demi mempertahankan keimanan kepada Allah SWT.

“Tahun Baru Islam mengajarkan kita untuk memperbarui hati, serta memperbaiki diri. Seperti makna hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah, kita diajak untuk  meninggalkan perbuatan buruk dan mengisi waktu dengan hal-hal yang baik,” tuturnya.

Sebagai penutup, ia juga menekankan pentingnya menjaga hati sebagai pengendali hawa nafsu. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang segumpal daging yang menentukan baik dan buruknya seluruh jasad, yakni hati. Menurutnya, hati yang bersih akan mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat baik dan istikamah dalam proses memperbaiki diri.

“Maka jika ingin meninggalkan perbuatan buruk, ikutilah kata hati. Karena fitrah hati itu suci. Hati yang harus mengendalikan anggota tubuh kita agar senantiasa dalam koridor kebaikan,” pungkasnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin Ustaz Tajul Muluk. Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan dapat menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan,  serta memperkuat komitmen dalam menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah SWT.

Tinggalkan Balasan