Pada akhir Agustus tahun lalu, kami ke Pesantren Tebuireng, dan menyaksikan momen Gus Kikin memotong tumpeng. Bukan tumpeng ulang tahun Gus Kikin, yang lahir pada 17 Agustus 1958, melainkan tumpeng syukuran 6 tahun lahirnya jejaring duniasantri, yang lahir pada 17 Agustus 2019.
Persis setahun kemudian, akhir Agustus tahun ini, kami kembali ke Pesantren Tebuireng, dan menyaksikan momen Gus Kikin menerima tasbih dan tongkat peninggalan KH Hasyim Asy’ari. Tasbih dan tongkat tersebut diserahkan kepada Gus Kikin sesaat setelah diberi amanah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU).


Mungkin kebetulan belaka. Tapi bagi saya, itu merupakan momen-momen historis jejaring duniasantri dengan Gus Kikin, sapaan akrab KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng. Momen yang membuat saya mengangguk kenapa akhirnya Gus Kikin terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas.
***
Pada foto cover tulisan ini, terlihat Gus Kikin menyerahkan potongan pertama tumpeng kepada Sekretaris jejaring duniasantri, Atiqotul Fitriyah, yang berdiri di sebelah kirinya. Sementara, Ketua Dewan Pembina jejaring duniasantri, Ngatawi Al-Zastrouw, berdiri di sebelah kanan Gus Kikin.
Orang dalam Tebuireng bisik-bisik: ini pertama kalinya Gus Kikin melakukan hal seperti itu, setidaknya selama menjadi Pengasuh Tebuireng. (Kehormatan seperti itu juga menjadi yang pertama bagi jejaring duniasantri).
Secara pribadi, saya mencatat ada tiga momen menarik berkaitan dengan kegiatan duniasantri pada akhir Agustus 2025 di Tebuireng. Selama empat hari, duniasantri menggelar acara di bawah tema “Zikir Kemerdekaan: Aktualisasi Pemikiran KH Hasyim Asy’ari”.
Momen potong tumpeng tersebut bagian dari sesi pembukaan. Ada pertunjukan seni dan pagelaran wayang santri oleh Ki Dalang Haryo Enthus. Selain memotong tumpeng dan memberikan sambutan, Gus Kikin juga menyaksikan para santri Tebuireng tampil di panggung, bernyanyi dan berpuisi, juga bermonolog. Bahkan, Gus Kikin turut menyaksikan pagelaran wayang hingga larut, dan sesekali terpingkal.
Itu momen pertama yang, bahkan menurut orang-orang Tebuireng sendiri, langka dan istimewa.
Momen kedua yang menarik saya catat adalah ketika Gus Kikin menjamu pengurus jejaring duniasantri di Ndalem Kesepuhan. Dalam jamuan itu Gus Kikin terlihat hanya mengunyah buah, selebihnya banyak berbicara tentang berbagai hal, terutama bidang riset sejarah dan keilmuan. Di meja makan itu terlihat betapa luas pengetahuan Gus Kikin, betapa tinggi antusiasmenya untuk mengembangkan riset dan ilmu pengetahuan di lingkungan pesantren. Bahkan, di meja makan itu pula, Gus Kikin menunjukkan dokumen-dokumen hasil risetnya yang belum dipublikasikan –bahkan cenderung disembunyikan.
