Agama di Tengah Budaya Pencitraan

Ada masa ketika seseorang pergi ke masjid, mengikuti pengajian, bersedakah, atau membaca Al-Qur’an cukup diketahui oleh dirinya sendiri dan orang-orang yang kebetulan berada di sekitarnya. Tidak ada kamera yang sibuk mengabadikan, tidak ada layar yang menunggu untuk membagikan, dan tidak ada jumlah suka yang menjadi ukuran apakah kebaikan itu layak diperlihatkan.

Sekarang, rasanya semua tadi bisa menjadi bagian dari apa yang kita tampilkan kepada dunia. Media sosial membuat kehidupan pribadi perlahan menjadi ruang publik. Apa yang kita lakukan, pikirkan, kenakan, bahkan cara kita beragama dapat dengan mudah dibagikan kepada banyak orang. Pekerjaan kebaikan yang dahulunya selesai ketika dilakukan, kini bisa berlanjut menjadi foto, vedio, caption, dan komentar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentunya, tidak ada yang salah dengan membagikan kebaikan tadi. yang menjadi persoalan adalah ketika agama tidak lagi dijalani, tetapi juga mulai dipikirkan dari bagaimana ia terlihat di hadapan orang lain.

Hari ini kita juga mengenal istilah personal branding. Seseorang membangun kesan tertentu tentang dirinya agar dikenal dengan citra yang ia inginkan. Di tengah budaya seperti ini, kesalehan pun bisa menjadi bagian dari citra. Cara berpakaian, tempat yang dikunjungi, kegiatan keagamaan, hingga kutipan ayat yang dibagikan dapat membentuk kesan tentang siapa kita.

Tinggalkan Balasan