Gus Jaka dan Mukidi

Awan bergumpal-gumpal di langit desa Mentaraman. Hamparan biru dengan luas tak terukur yang menjadi atap bumi itu berselubung gelap. Di balik kegelapan awan sang mentari sedang bermuram durja. Tak berapa lama kemudian turun gerimis. Dalam hitungan detik, rintik hujan itu kemudian berubah menjadi hujan lebat. Bau tanah basah menyeruak. Ladang-ladang tandus yang retak oleh keringnya kemarau pun perlahan mengatup. Penantian para petani akan turunnya hujan telah terbayar lunas hari ini. Orang-orang pinggiran penghuni desa di tepi laut selatan itu pun bersorak- sorai.

Ketika orang-orang itu sedang merayakan kebahagiaan, seorang bocah dengan wajah bekunya sedang mengamati kucuran air hujan yang turun di teras rumahnya. Walaupun kedua bola matanya menatap tetesan air hujan itu namun kentara sekali bukan itu yang sedang dipikirkannya. Dia sedang meratapi betapa malang hidupnya. Wajahnya pias. Tak ada rona kebahagiaan sedikit pun. Sesekali ia mengamati anak-anak kecil bertelanjang dada yang berlari ke sana-ke mari di bawah derasnya guyuran air hujan. Namun keceriaan kedua anak kecil itu harus terhenti ketika ibu mereka datang memarahi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rumah Gus Jaka, bocah pemilik wajah murung itu, sedang ramai. Sanak keluarganya sedang berkumpul. Akan tetapi, untuk hari-hari selanjutnya rumah berdinding anyaman bambu itu akan mendulang sepi. Gus Jaka akan menghuninya seorang diri. Bapaknya telah wafat seminggu yang lalu. Dan sore ini bertepatan dengan acara kenduri tujuh harinya. Bocah kelas enam SD itu kini menjadi yatim piatu. Ibunya telah meninggal beberapa jam setelah melahirkan dirinya, dua belas tahun yang lalu. Entah dia akan hidup dengan siapa setelah hari-hari ini berlalu. Kehidupan suram membayangi masa depannya.

Seorang lelaki tua dengan titik-titik air menghiasi sebagian tubuhnya datang membawa setumpuk daun jati. Daun-daun berukuran lebar itu akan digunakan untuk membungkus nasi kenduri nanti malam.

“Ditaruh di mana daun jatinya ini, Yu?” tanya orang itu.

“Oalah kok repot-repot to, Lek Di? Ya sudah, ditaruh di atas dingklik saja,” jawab Yu Mes. Bibi Gus Jaka itu kemudian mengambil baju untuk dikenakan anak-anaknya.

Sementara itu, wajah murung Gus Jaka mengundang simpati Mukidi, lelaki pembawa daun jati dengan songkok berbeludru mengelupas di sana-sini yang bertengger di kepalanya. Sesekali mulut Mukidi menyedot rokok tingwe yang sedari tadi dia pegang. Kepulan asap disertai bau tembakau yang khas itu segera menguar di awang-awang.

“Gus Jaka sudah makan apa belum?” tanya Mukidi sambil mengelus pundak putra almarhum Mbah Syairozi itu.

Gus Jaka menjawab dengan gelengan kepala. Mukidi dapat memaklumi sikapnya. Anak itu sedang dirundung nestapa. Kepergian orang tua satu-satunya itu jelas merupakan pukulan telak bagi jiwanya, apalagi bagi anak seusia dirinya.

“Kata Mbah Rozi sebelum wafat, sampeyan akan dititipkan ke Kiai Dul. Sudah tahu Cah Bagus?” tanya Mukidi. Sebagai orang yang lama mengabdi pada Mbah Syairozi, Mukidi kerap mendapat pesan pribadi hingga hal-hal yang berkaitan dengan Gus Jaka, anak semata wayang kiai jadug itu.

Lagi-lagi Gus Jaka menggeleng.

“Walau sekarang Kiai Dul begitu tersohor, tapi dulu dia juga pernah mengaji pada bapakmu,” gumam Mukidi. Gus Jaka masih tetap membisu. Tapi ucapan Mukidi itu memancing rasa penasarannya.

“Iya Le, nanti kamu biar diantar Lek Mukidi, nyantri ke Mbah Dul; biar pondok peninggalan bapakmu ini ada yang meneruskan kelak,” sahut Yu Mes, bibi Gus Jaka.

“Nggeh, Bik,” sahut Gus Jaka dengan suara lirih.

“Kapan kamu mau saya antar ke Gedangan, Le?” tanya Mukidi.

“Kapan Kiai Dul mengaji pada bapak, Lek?” bukannya menjawab pertanyaan Mukidi, Gus Jaka justru mengajukan pertanyaan lain.

“Dulu Kiai Dul muda itu orang yang jahat. Suka ilmu perdukunan. Bahkan kemudian sering menyantet orang. Dia baru tersadar atas kesalahannya ketika tak berhasil menyantet bapakmu. Mbah Rozi itu sundul langit ilmunya, tapi dia berhasil menyembunyikan dirinya di balik pondok kecil yang diasuhnya ini,” papar Mukidi.

Semakin penasaranlah Gus Jaka. “Setelah tobat dia memperdalam ilmu agama pada Mbah Rozi. Meski bapakmu tidak dianugerahi banyak murid, tapi yang pernah belajar padanya rata-rata mendapat ilmu yang barokah. Kiai Dul kemudian melanjutkan belajar ke Kiai Saleh sampai dijadikan menantunya itu.”

Tinggalkan Balasan