Dik Sulastri

“Mas…,” istri Kang Sules memanggil.

“Iya, ada apa, dik?” jawab Kang Sules dengan mesra.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Besok pagi bisa antar aku ke pasar?” tanya Sulastri.

“Bisa, dik. Berangkat jam enam pagi ya, sebab jam setengah delapan mas harus ngantor,” Kang Sules menyanggupi permintaan istrinya.

Esok paginya, Kang Sules agak terlambat bangun pagi. Subuh jam lima lebih, segera ia bangun dan bergegas mengeluarkan sepeda motor tua kesayangan dan memang menjadi satu-satunya kendaraan di rumah tangga ini. Sulastri yang sedari tadi menunggu, tampak memoncongkan bibirnya sepuluh senti. Telah siap berdandan menunggu di ruang tamu.

“Mas… Mas niat apa tidak sih mengantar pergi ke pasar? Kalau memang tidak ikhlas, ya bilang saja…,” Sulastri meluapkan emosinya.

“Sabar to, dik. Maaf, Kang Sules tadi malam habis jaga di pos kamling. Jadi, ngantuknya tidak bisa ditahan,” Kang Sules berusaha meredam emosi istrinya.

“Halah! Memang tidak niat. Sudah tahu besok pagi mau ngantar istri ke pasar, eh malah enak-enakan jagongan sama temannya.”

“Sudah to dik… sudah. Ini mas sudah terburu-buru. Pagi-pagi jangan diawali dengan kemarahan,” lebih rendah lagi Kang Sules menjawab sambil mengeluarkan motornya.

“Kenapa lagi? Ada apa lagi? Kok masuk lagi?” tanya Sulastri melihat suaminya masuk rumah lagi setelah mengeluarkan motornya.

“Kunci motor, dik. Kamu tahu di mana?”

“Aduh, mas… mas. Memang kamu tidak niat ngantar! Kok ya tidak dipersiapkan sebelumnya.”

Mereka berdua akhirnya kembali ke dalam rumah untuk mencari kunci motor. Kunci motor, kunci lemari, kunci password, kunci jawaban, entah apa pun yang berkaitan dengan “kunci” sering menjadi barang yang selalu dicari ketika dibutuhkan.

“Sudah ketemu dik. Ini di saku jaket mas ternyata,” teriak Kang Sules lega.

Pagi ini mungkin bukan pagi yang indah. Berkali-kali Kang Sules menghidupkan motornya, namun tidak juga mau hidup.

“Apa lagi? Ayo mas, ini sudah setengah tujuh!” Sulastri menambah maju bibirnya menjadi lima senti dari sebelumnya.

“Nggak tahu dik. Kenapa ini motor. Sebentar aku periksa.”

Kang Sules segera membuka tutup tanki, bensinya masih ada. Kabel busi dicopot, kemudian didekatkan pada besi mesin, tampak tidak ada setrumnya. Kang Sules mendesah.

“Maaf dik, motor Kang Sules rusak. Ini setrumnya tidak ada.”

“Lalu? Mas… mas… Keasikan nongkrong di pos kamling ya gitu itu. Tidak dipersiapkan semuanya. Giliran istri butuh bantuan ada saja alasannya!” Sulastri tambah geram.

“Sebentar, dik. Mas ke tetangga sebelah pinjam motor untuk ngantar ke pasar.”

Pagi yang benar-benar diawali dengan buruk, pikir Kang Sules. Semoga tidak berpengaruh pada jam-jam selanjutnya untuk hari ini. Kira-kira begitu doa Kang Sules pada Allah.

Pagi itu Kang Sules terlambat datang di kantor kelurahan, karena pulang dari pasar sudah jam delapan. Kemarahan Sulastri masih melekat. Hingga satu hari, suasana rumah menjadi kurang tenang. Kang Sules mencoba bersabar.

“Mas, besok antar lagi aku ke pasar. Mau beli bumbu untuk selamatan seribu hari ibuku,” pinta Sulastri seminggu kemudian.

Assiyyaaappp…dik Sulastri yang manis. Kang Mas Arjunamu ini siap mengantarmu kapan saja, ke mana saja…,” kelakar Kang Sules.

“Halah gombal mukiyo. Awas kalau terjadi seperti kemarin. Ada saja alasanmu, mas.”

“Tenang, dik. Santuuyy… mas sudah menyiapkan kunci sepeda motornya. Sengaja tidak dicabut dari stir. Bensin full, setrum ada, ban-ban dalam kondisi baik,” jawab Kang Sules untuk menenangkan hati isrtri tercintanya.

“Ya sudah kalau begitu. Jangan tidur malam-malam supaya tidak telat bangun besok. Jangan lupa juga, ini malam Jumat lo mas…,” senyum manja Sulastri memberi kode rahasia.

“Siap boskuh…,” Kang Sules sumringah memahami kode sang istri. Malam Jumat, hawa dingin, hujan gerimis, lampu PLN mati karena pemadaman listrik, memang beberapa faktor yang menyebabkan pertumbuhan penduduk Indonesia meningkat, dan itu tidak tertulis dalam buku pelajaran Geografi.

Paginya, Kang Sules mengantar Sulastri ke pasar sesuai rencana. Semua berjalan mulus, sesuai harapan.

“Mas, ayo ikut belanja ke pasar. Bawaanku nanti pasti berat, soalnya banyak yang aku cari,” pinta Sulastri selesai Kang Sules memarkir sepeda motornya.

“Baik. Ayo lekas bergegas, dik. Ini sudah setengah tujuh. Setengah delapan mas harus sudah sampai di kantor.”

“Jangan memulai, mas. Baru minta tolong saja sudah mulai mengeluh,” nada suara Sulastri berbeda dengan tadi malam. Waduh, pertanda apa lagi ini. Kang Sules berdoa semoga hari ini bisa “terselamatkan”.

Benar saja. Di dalam pasar Sulastri banyak berbelanja. Mondar-mandir ke lapak penjual, entah apa lagi yang dicari. Selisih lima ratus perak saja, sampai berdebat. Tidak jadi beli, memilih pergi ke lapak lain. Memang, setiap istri sudah memunyai ilmu manajemen secara alami.

Tinggalkan Balasan