Di masa purnatugasnya sebagai anggota Baintelkam, Komisaris (purnawirawan) Prapto memutuskan untuk kembali ke rumah warisan orang tuanya di Desa Sukodono. Ia ingin menikmati hari tuanya bersama istrinya. Anak bungsunya mengikuti jejak ayahnya sebagai polisi yang sekarang bertugas di Papua. Si Sulung bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Ia belum lama menikah, kemudian memutuskan untuk tinggal bersama mertuanya. Prapto menyetujuinya karena besannya sudah renta dan menderita parkinson. Ia menyadari, tak mungkin besannya untuk tinggal sendiri. Dini hari ini, Prapto bersiap berangkat untuk meningggalkan Jakarta.
“Sudah lama aku ingin kembali ke desa. Tempat tinggal kita di masa kecil. Yang membesarkanku hingga bisa menempuh Sekolah Polisi Negara.”

“Iya, Yah. Aku juga ingin pulang ke kampung halaman mencari ketenangan.”
Setelah menempuh perjalanan lima jam, ia berniat istihahat sejanak sambil menemui sahabat lamanya.
“Kita berhenti sebentar di warung depan itu ya, Bu? Meregangkan otot.”
“Bukankah sebentar lagi sampai?”
“Aku ingin menemui Noval, teman lamaku. Sekarang ia membuka warung depan itu.”
“Oh, begitu ya.”
Di depan jalan yang berada di tengah sawah, ada sebuah warung sederhana yang hanya berdinding bambu. Mobil Prapto dihentikan di depan warung. Propto membuka pintu mobil kemudian memasuki warung dengan diikuti istrinya.
“Sugeng rawuh, Pak. Ngersaaken punopo?” Seseorang yang berambut putih melempar pertanyaan.
“Noval?” Prapto menyodorkan tangannya sebagai isyarat menjabat tangan.
“Iya saya Noval. Bapak siapa?” jawabnya sambil menyambut jabatan tangan Prapto. Sebelum menjawab, Prapto melepaskan kaca mata hitamnya.
“Aku ‘Gudel’. Temanmu bersepeda dan mandi di kali waktu kecil.”
“Oh, Pak Polisi. Monggo pinarak. Ini sedang menikmati cuti atau apa? Tumben ke sini.”
“Aku berencana mau menghabiskan masa tuaku bersama istriku di kampung ini. Sebenarnya aku sering ke sini ketika mudik. Tapi yang kujumpai anakmu. Katanya hanya pagi saja kamu di sini. Kalau siang sampai malam kamu menjaga warung yang ada di rumah.”
Sambil menikmati es degan, mereka bercerita tentang kondisi teman-teman mereka saat ini. Saat sedang asyik becerita, ada mobil polisi yang berhenti. Para polisi turun dari mobilnya kemudian masuk ke warung Noval,
“Selamat pagi, Pak Noval.”
“Selamat pagi, Pak.”
“Kami dari Polres Nganjuk. Ingin menanyakan mengenai keberadaan Bapak waktu kemarin malam, ketika terjadi kecelakaan di tikungan selatan.”
“Ya Pak, saya melihat bahkan sempat menolongnya. Tapi karena saya sendirian, saya meminta bantuan pengendara mobil yang sedang melintas untuk membawanya ke rumah sakit.”
“Bapak bisa ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan sebagai saksi?”
“Baik Pak.”
Naluri Prapto sebagai Baintelkam pun terpanggil. Ia memberanikan diri bertanya kepada ke dua polisi yang sedang mengorek keterangan dari Noval.
“Selamat pagi, Pak Polisi. Perkenalkan, saya Kombes Purnawirawan Prapto. Apa boleh saya bertanya tentang peristiwa yang sedang terjadi?” Prapto bercakap sambil menyodorkan KTA-nya yang sudah kadaluarsa.
“Pagi Pak. Ada kecelakaan yang menimpa dua orang. Semua ditemukan meninggal pagi harinya di tikungan maut,” jawab polisi berpengkat Bripka.
“Kapolresnya masih Pak Munif?”
“Masih Pak. Bapak kenal dengan Pak Munif?”
Propto menjelaskan bahwa Kombes Munif adalah adik kelasnya waktu di SD. Ia juga pernah berjumpa di pelatihan di Akpol Magelang sebelum pensiun.
