Memang, rata-rata golongan “minhum” banyak berbasis di perkotaan, karena beberapa hal seperti jarangnya pondok pesantren dan mobilitas yang lebih tinggi. Maka, kemudian orang-orang yang hendak belajar agama akan mencari waktu yang lebih singkat dalam belajar, ya salah satunya dengan membeli buku bacaan.
Coba bandingkan, kitab panduan fikih mereka, “panduan hidup sunah sehari semalam”, dengan fikih Taqrib ala pesantren di desa-desa. Memang beda jauh. Buku terbitan Darul Haq tentu kelihatan lebih keren, asyik dibaca; ya memang mudah karena sudah terjemahan, dan kesimpulan kesimpulan tok isinya, meskipun kaku dan kayak paling benar sendiri.

Beda jauh dengan kitab kuning pesantren. Sudah cover-nya tak menarik, baunya sengak-sengak, apalagi isinya yang sudah dimaknai dengan pegon. Benar-benar seperti serondeng. Lebih susah dipahami juga lantaran harus bersanad pada guru.
Pantas saja, rata-rata di masjid bila perkotaan adzan jumatnya cuma satu. Bakda adzan sholat maktubah tak ada puji-pujian, apalagi majelis-majelis yasin, tahlil, manaqib, berjanjen, peringatan nuzulul quran, isro miroj, mauludan rajab, syaban, muharam; jarang kan yang ada?
