Re-thinking Feminism dan Muslim Indonesia

Dalam konteks Indonesia, feminisme sebagai sebuah pemikiran atau filsafat dan juga gerakan sosial menjadi sebuah topik yang selalu dibicarakan dalam berbagai diskursus keilmuan. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dan dengan semakin banyak dikenalnya reformis perempuan muslim yang memperjuangkan kesetaraan gender, perdebatan pandangan mengenai “penerimaan” diskursus feminisme dalam konteks masyarakat Islam Indonesia masih terbelah di antara titik pro-kontra. Masih diperlukan advokasi dan penyadaran bahwa feminisme bukan soal anti atau penaklukan terhadap laki-laki, melainkan masalah keadilan asasi.

Dalam sejarahnya, feminisme lahir dari rahim ketidakadilan dan luka sosial. Feminisme lahir untuk melawan distribusi keadilan yang tidak setara, perspektif keadilan yang timpang, yang melahirkan relasi kuasa yang menempatkan mereka yang lemah menjadi korban. Namun, sebagai sebuah filsafat sekaligus gerakan sosial, feminisme tidaklah muncul karena ketakjuban. Ia muncul sebagai respons langsung terhadap pergerakan sosial dan masalah politik: sebuah panggilan untuk perubahan (Cole, 1993: 1). Ia lahir pada situasi historis tertentu yang ditandai dengan adanya ketidakadilan atau opresi; dan memiliki tujuan yang jelas dan spesifik, yaitu cita-cita keadilan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun feminisme dianggap sebagai sebuah pemikiran yang modern dan kontemporer, sesungguhnya diskursus mengenai spirit keadilan dan kesetaraan ini dapat ditelusuri dari abad ke-18 di Barat, yang dalam esai dan tulisan-tulisan filosofis dikenal dengan sebutan proto-feminis. Kelahiran feminisme ini menandai awal mula pemikiran dan gerakan sosial yang mencita-citakan keadilan dengan tujuan untuk tidak semata mengkritisi ketidakadilan yang terjadi, tetapi juga melawannya agar perempuan tidak lagi menjadi korban dari tatanan masyarakat yang patriarkis.

Feminisme di Indonesia

Seperti di Barat, kelahiran feminisme di Indonesia juga didorong oleh ketidakadilan atau opresi terhadap perempuan. Dunia mengenal Raden Ajeng Kartini (1879-1904) sebagai pelopor pergerakan perempuan di Indonesia. Kita juga tidak asing dengan nama-nama lain seperti Dewi Sartika dan perempuan-perempuan tatar Sunda lainnya yang membangun sekolah-sekolah perempuan. Perempuan pada masa itu dikisahkan begitu susah memperoleh pendidikan, karena perempuan lebih diidentikkan dengan pekerjaan rumah tangga sehingga pendidikan bukan suatu hal yang diprioritaskan.

Selain di bidang pendidikan, kita juga mengenal nama-nama perempuan pejuang seperti Cut Nyak Dien dan Martha Christina Tiahahu yang turut terjun ke medan perang untuk membela tanah airnya dari penjajahan. Yang paling menakjubkan adalah nama Laksmana Keumlahayati, laksmana perempuan pertama di dunia dari Aceh pada abad ke XV, yang kisahnya diabadikan ke dalam lagu oleh musisi legendaris Iwan Fals.

Tinggalkan Balasan