Buku ini menonjol karena kemampuannya memadukan teologi tradisional dengan realitas teknologi masa depan, sehingga tidak terjebak dalam sikap anti-teknologi maupun penerimaan buta terhadap modernitas.
Para penulis menekankan pentingnya penguasaan literasi digital bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga kedaulatan umat di tengah dunia yang semakin transparan dan terkoneksi.

Nilai penting buku ini terletak pada upayanya membumikan diskursus masa depan ke dalam konteks keseharian warga Nahdliyin. Dengan menyertakan beragam perspektif, mulai dari isu sosial, kebijakan, hingga kemanusiaan.
Buku ini berfungsi sebagai panduan praktis sekaligus teoretis bagi santri dan aktivis untuk berperan aktif dalam ruang publik digital. Imanjinasi The Future Society bukan sekadar catatan optimisme, melainkan sebuah seruan untuk membangun “ekosistem masa depan” yang tetap berakar pada nilai-nilai moderasi, toleransi, dan keadilan yang selama ini menjadi napas perjuangan Nahdlatul Ulama.
Terkait prinsip keagamaan, buku ini secara tegas memposisikan Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai kerangka etis utama dalam menimbang setiap inovasi digital. Para penulis menekankan bahwa prinsip moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan (i’tidal) yang merupakan kompas yang mutlak diperlukan agar masyarakat tidak kehilangan orientasi di tengah arus informasi yang tak terbendung.
Prinsip-prinsip tersebut ditransformasikan menjadi panduan perilaku (code of conduct) bagi warga Nahdliyin dalam berinteraksi di ruang digital, memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap membawa kemaslahatan (maslahah) dan bukan justru menebar fitnah atau perpecahan.
