Belajar Bahagia dari Imam al-Ghazali

Buku ini banyak menjelaskan tentang masalah kebatinan yang sering menimpa kita. Apalagi seperti zaman sekarang yang seolah sudah tidak tahu kodrat kita di bumi. Sehingga banyak orang yang memberikan pertanyaan spesifik, siapa kita? Apa tujuan kita diciptakan?  Mengapa kita harus diciptakan? Begitulah kita, ciptaan yang sudah lupa pada hakikat kita. Inilah yang sedang melanda manusia zaman sekarang.

Zaman sekarang kita sudah lupa pada esensi kita berada di bumi. Kita sudah tidak lagi mengenal aturan syariat yang semestinya patut kita dahulukan dari pada aturan yang lain. Kita sudah tidak mengerti apa itu iman dan Islam, sebab semua yang menjadi wajib, semenjak kita ditiupkan ruh, dilupakan begitu saja.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Oleh karenanya kita sudah tidak mengenal kita sendiri. Ketakwaan kita sudah direnggut oleh nafsu kebinatangan kita. Hal tersebut berimbas pada sikap dan perilaku kita yang acuh terhadap segala seusatu. Menurut Imam al-Ghazali, sikap dan prilaku syariat inilah sebenarnya esensi dasar ketakwaan kepada Allah (hal.13).

Pantaslah kita masih merasa sengsara meski berlimpah harta yang kita miliki. Banyak orang yang mengeluhkan ketidakadilan Allah dalam memberi rahmat-Nya. Padahal, kalau kita lebih datail dan cermat lagi dalam mendikte kehidupan yang kita jalani, tentu kita akan sadar sendiri, bahwa sebenarnya kitalah biang keroknya kehidupan yang kita jalani sendiri.

Mengapa demikian, sebab sikap dan etika kita sudah tidak melekat lagi dalam diri kita. Imam al-Ghazali dikenal dengan sifat warak, tawaduk, dan zuhudnya. Sehingga Imam al-Ghazali menemukan kebahagiaan yang sejati. Tidak heran meski kekurangan dalam segi materi, Imam al-Ghazali tidak pernah mengeluh, dan justru semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan budi pekerti yang baik, orang akan mencapai derajat kebahagiaan (hal.81).

Tinggalkan Balasan