Dunia pesantren adalah cuplikan kehidupan yang unik. Di sana, waktu seolah berjalan dengan hukum fisika yang berbeda. Bayangkan, kita bisa merasa sangat sibuk sekaligus sangat tenang di saat yang bersamaan. Namun, ada satu dilema klasik yang sering menghantui para santri senior, yaitu khidmah versus mengaji.
Khidmah adalah pengabdian seorang santri menjadi pengurus pondok, baik mengurus santri, bangunan, dapur, maupun mengabdi pada kiai. Sementara itu, ngaji adalah tujuan dan muru’ah (marwah) utama seorang santri.

Pertanyaannya: bagaimana menjaga nalar intelektual tetap tajam saat tangan lebih sering memegang gagang sapu atau sekop daripada pena?
Memang ada beberapa humor di pesantren yang sering kali lahir dari tekanan. Ada anekdot tentang seorang santri pengurus keamanan bernama Kang Junaidi. Kang Junaidi ini, saking sibuknya mengurus sandal santri yang hilang, menertibkan jam tidur, dan mengoprak-oprak santri waktu jemaah, sampai lupa kapan terakhir kali ia membuka kitab Ibnu Aqil.
Suatu hari, saat sedang menyapu halaman ndalem kiai, ia bergumam sendiri mengikuti ritme sapunya, “Af’ilatun af’ulu tsumma fi’lah … ah, lirik selanjutnya apa ya? Kok malah jadi ‘Barang siapa yang dikirim orang tuanya, harap lapor’?”
Di situ letak lucunya, tetapi sekaligus kegetirannya. Banyak santri merasa bahwa ketika mulai berkhidmat, tugas belajar selesai atau setidaknya boleh dikesampingkan. Padahal, pengabdian tanpa landasan ilmu itu ibarat menyetir mobil dengan mata tertutup. Niatnya jalan, tetapi arahnya tabrakan. Belajar di tengah pengabdian bukanlah soal durasi, melainkan soal konsistensi.
Di pesantren, kita mengenal istilah nglalar atau nderes (mengulang-ulang hafalan atau bacaan). Ada sebuah kisah tentang seorang santri yang bertugas di dapur ndalem.
Setiap hari ia harus mengupas berkarung-karung bawang merah. Matanya perih, air matanya bercucuran (bukan karena sedih meratapi nasib, melainkan murni karena uap bawang). Namun, di samping talenan itu, ia selalu meletakkan kitab kecil Fathul Qorib.
