Berkhidmah versus Mengaji

Di pesantren, kita mengenal istilah nglalar atau nderes (mengulang-ulang hafalan atau bacaan). Ada sebuah kisah tentang seorang santri yang bertugas di dapur ndalem.

Setiap hari ia harus mengupas berkarung-karung bawang merah. Matanya perih, air matanya bercucuran (bukan karena sedih meratapi nasib, melainkan murni karena uap bawang). Namun, di samping talenan itu, ia selalu meletakkan kitab kecil Fathul Qorib.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sambil mengupas, mulutnya komat-kamit membaca bab muamalah. Rekannya bertanya, “Kang, apa masuk ilmunya kalau belajarnya sambil nangis bombai begini?”

Ia menjawab dengan santai, “Ilmu itu seperti air, Kang. Kalau tidak dialirkan, dia jadi sarang nyamuk. Biarpun cuma satu baris satu bawang, yang penting keran ilmunya tidak mampet.”

Sering kali kita salah kaprah menganggap khidmah adalah “jeda” dari belajar. Padahal, khidmah adalah laboratorium dari apa yang kita pelajari di kitab kuning.

Jika hanya belajar teori tanpa khidmah, kita hanya akan jadi “perpustakaan berjalan”: pintar, tetapi kaku. Sebaliknya, khidmah tanpa belajar akan membuat kita lelah secara fisik, tetapi kosong secara spiritual. Seorang santri yang cerdas akan menjadikan setiap peluh saat menyapu sebagai tinta dan setiap langkah saat mengabdi sebagai baris-baris ilmu yang nyata.

Tinggalkan Balasan