Saya memandang bahwa tubuh dan pikiran perlu diberi ruang bernapas agar belajar kembali menjadi efektif. Dalam tradisi pesantren, kita mengenal disiplin yang ketat, namun kearifan sejati justru muncul saat kita mampu mengelola ego untuk mengakui bahwa diri kita butuh istirahat. Menggunakan waktu libur untuk sekadar menekuni hobi atau berkumpul dengan keluarga bukan berarti kita meninggalkan kitab, melainkan sedang “mengasah parang” agar saat kembali ke pesantren nanti, daya serap kita menjadi lebih tajam.
Namun, di sinilah letak ujiannya. Orang Madura memiliki istilah yang sangat pas menggambarkan fenomena ini: “Bur-liburan benne bur-leburan” (Berlibur bukan berarti bebas berbuat sesuka hati atau hanyut dalam kesenangan yang melalaikan). Liburan adalah jeda yang bertanggung jawab.

Sering kali, tantangan terbesar santri saat pulang adalah godaan layar gawai pintar. Bermain HP tentu diperbolehkan sebagai sarana hiburan, namun jangan sampai ia mengikis esensi dari “istirahat” itu sendiri. Jangan sampai ketika tiba waktunya kembali ke bilik pesantren, yang tersisa hanyalah keluhan, “Yaelah, belum puas main HP,” atau rasa malas yang justru berlipat ganda. Ilmu membutuhkan ketenangan dan kesiapan jiwa, bukan keterpaksaan yang lahir dari rasa jenuh yang belum tuntas.
Normalisasi terhadap pentingnya kesehatan mental dan jeda bagi santri perlu terus dipupuk. Jika kita mampu merayakan liburan dengan penuh kesadaran—bahwa ini adalah cara kita menghargai hak tubuh—maka saat kembali ke pondok nanti, semangat yang dibawa adalah semangat baru, bukan sisa-sisa kelelahan dari semester sebelumnya.
