Peran Santri
Seperti dikhawatirkan pada awal kemunculannya, hal yang tak diinginkan akhirnya terjadi juga. Produk citizen journalism, termasuk berbagai platform medsos, dari awal kemunculannya dikhawatirkan bisa menimbulkan “kekacauan” ruang publik karena pengunggahan kontennya belum tentu mengikuti standar kerja dan kaidah-kaidah jurnalistik. Dan itulah, memang, yang terjadi di ruang publik kita akhir-akhir ini.

Ruang-ruang publik di jejaring medsos tidak banyak diisi dengan informasi-informasi yang valid dan pertukaran ide atau gagasan yang argumentatif. Konten yang bertebaran dan bersilewaran di jejaring medsos justru mengandung banyak penyesatan informasi (hoax), ujaran kebencian, fitnah, dan pengudaran hal-hal privat dan tabu. Masyarakat kita, yang terbelah secara tajam menjadi dua kubu akibat peristiwa-peristiwa politik itu, terus berperang melalui jejaring medsos itu. Masing-masing pihak menjadi buzzer.
Di mana posisi santri?
Santri tergolong sebagai komunitas yang dapat dibilang paling belakangan memasuki wilayah ini: citizen journalism dan jejaring medsos. Tapi, justru dengan begitu memiliki posisi yang menguntungkan. Sebab, di jejaring dunia maya, santri masih bisa berdiri pada posisi yang “netral” karena belum terkontaminasi oleh kedua belah kubu. Karena itu, di tengah centang-perenang jejaring medsos, santri justru bisa memainkan peran strategis dalam mengembalikan marwah ruang publik dengan menjadi “buzzer kebenaran”.
Sebagai gambaran simplifikasi, misalnya, sebelum ini yang ikut menguasai jejaring medsos adalah kelompok-kelompok radikal berbasis keagamaan. Karena itu, gerakan-gerakan Islam radikal seakan memperoleh panggung dan segala opini mereka menjadi wacana publik. Jika dibiarkan terus berlarut, akan terbangun opini bahwa yang benar adalah segala apa yang didengung-dengungkan oleh kelompok-kelompok radikal berbasis keagamaan itu. Maka, kehadiran santri di jejaring medsos akan memiliki makna strategis untuk meluruskan penyesatan informasi dan opini dari mereka.
