Cerita Kecil dari 6th jejaring duniasantri

Aku tidak segera membalas. Tiap kata dalam pesan itu membuat bulu kudukku merinding. Ya, ia telah bekerja keras. Aku tahu, tidak mudah menyelenggarakan acara sebesar ini. Mbak Rara dan timnya berhasil, bahkan membuat kami tercengang. Mereka adalah cerminan semangat Hadratussyekh Hasyim Asy’ari—spirit yang terus tertanam pada generasi santrinya.

jejaring duniasantri dan Media Group Tebuireng adalah dua tubuh dalam satu rumah besar Ahlusunnah Waljama’ah, dengan satu tujuan: menanamkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Agar generasi santri terus menjadi pembelajar, pencari ilmu, dan pembagi manfaat, tanpa memandang perbedaan ras, agama, atau golongan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Malam itu, di dalam gerbong, aku teringat pertemuan singkat KH Wahid Hasyim dan Syaifuddin Zuhri menjelang kemerdekaan. Mereka sering bertemu di stasiun, berdiskusi dan merencanakan pendidikan alternatif untuk umat Islam—sembari merumuskan cara agar rakyat Indonesia terbebas dari penjajahan. Itulah sepenggal kisah dari novel Guruku Orang-orang dari Pesantren karya Syaifuddin Zuhri.

Perayaan 6 tahun jejaring duniasantri ini adalah bagian dari sebuah perjalanan tak terduga. Semua bermula dari ide sederhana Atiqotul Fitriyah.

“Pak, ulang tahun keenam JDS kita gelar di Tebuireng, ya?”

Mukhlisin menjawabnya dengan tantangan, “Boleh, asal ketua panitianya Atiqotul Fitriyah.”

Aku tak tahu bagaimana ekspresi Atiq saat itu, tapi aku sendiri tak bisa mengelak saat Mukhlisin tiba-tiba mengajakku bertemu. “Kita kumpul untuk nyiapin acara di Tebuireng,” katanya.

One Reply to “Cerita Kecil dari 6th jejaring duniasantri”

Tinggalkan Balasan