Berhubung aku melihat adanya peluang, aku pun mengiakan tawaran ini. Berdua kami bersijingkat di samping surau melewati kediaman Ustaz Mahmud. Tapi, saat kami berada di sebelah ruang tamu yang separonya berdinding bata sementara separo lagi berdinding gedhek, mendadak aku mendengar percakapan tak biasa di sana.
Fajri menarik lenganku, tapi aku bergeming. Aku memintanya menengok lewat lubang kecil di gedhek. Meski ruangan ini disinari lampu bohlam lima watt, aku dapat melihat jelas dua lelaki berbadan tegap yang bertamu tengah malam begini. Kau tahu, aku tak pernah melihat guru ngajiku setegang ini sebelumnya.

“Di pucuk gumuk itu ada buyut saya. Mana mungkin saya tega membongkar makam lalu memindahkan tulang belulangnya ke seberang sungai?” kata Ustaz Mahmud lewat suara bergetar.
Salah seorang tamunya itu berdehem. Ia tampak mengeluarkan segepok uang, entah berapa jumlahnya, lalu ditaruh di atas meja. Sialnya, belum sempat lelaki itu bicara sepatah kata, Ustaz Mahmud keburu menghalau perbincangan.
“Sekali pun sekarung uang disuguhkan di hadapan saya sekarang, pantang bagi saya membongkar makam leluhur.”
Lelaki itu bersungut. Dari sorot matanya, aku tahu ia kesal. Bahkan ia ditenangkan kawannya saat merogoh saku belakang. Keduanya pun pulang tanpa berujar salam. Fajri yang ada di sampingku segera menarik lengan. Sialnya, belum sempat aku membuka pintu, Ustaz Mahmud mendadak menepuk pundak belakang.
Aku dan Fajri hanya tertunduk malu. Bahkan aku pasrah seandainya dikenai hukuman membersihkan surau sepekan lamanya. Tapi, Ustaz Mahmud tak bertanya apa-apa selain meminta kami kembali ke langgar.
Keesokan pagi, aku dan Fajri yang tengah menyiram tembakau, sengaja menghindari Ustad Mahmud yang berada di bawah gumuk. Sayangnya, guru ngajiku itu sengaja memanggil di mana santri yang lain menafsirkan kalau kami bakal diperbolehkan makan lebih dahulu. Ah, andai mereka tahu, saat semalam mereka berlomba membuat liur, justru kami ketahuan kalau hendak kabur demi menonton Jaranan di lapangan.
Di hadapan guru ngaji ini, aku merunduk lunglai macam pohon tercerabut dari akar. Bahkan saat Ustaz Mahmud menyuruh aku menjulurkan batang bambu yang telah dibelah menjadi dua bagian, aku terus merunduk.
“Gumuk itu, Tam, ibarat pakoh bhumi. Kalau sampai paku itu dicabut, maka satu per satu bagian bangunan akan hancur. Sama seperti gumuk ini,” kata Ustaz Mahmud seraya mengikatkan batang bambu ke akar beringin yang memancarkan sumber mata air.
“Kalau sampai gumuk ini dibabat lalu dikeruk sampai meninggalkan lubang menganga, bukan makam leluhur saja yang merasakan dampaknya. Tapi, ladang petani juga tak bisa dialiri air karena sumber mata air di gumuk telah musnah.”
Sejenak aku memberanikan diri menatap guru ngajiku itu. Ada aroma air mata yang tertahan di sana. Ustaz Mahmud menghela napas berat sembari memandang aliran air lewat batang bambu. Kau tahu, saat kemarau begini, puluhan petak ladang milik orang-orang bergantung ke sumber mata air dari gumuk Ustaz Mahmud.
Mendapatiku ikut termangu, Ustaz Mahmud tersenyum. Ia lantas memintaku memanggil semua santri untuk makan. Kami adalah murid yang berstatus santri kalong alias hanya pergi mengaji dari petang sampai Isya. Barulah tiap malam Ahad, kami menginap di surau lantaran keesokan harinya, kami akan membantu Ustaz Mahmud di ladang, dan hanya ini bayaran yang diterima guru ngajiku itu.
Seusai memastikan pekerjaan di ladang selesai, dan semua anak didiknya telah makan, Ustaz Mahmud meminta kami kembali ke rumah masing-masing. Tapi, Fajri mengajakku ke sungai. Selain membersihkan badan, tentu aku tahu akal bulus kawanku ini. Apalagi kalau bukan menangkap ikan. Meski tanpa alat pancing, kami bisa menangkap ikan menggunakan akar tuba. Racun tanaman itu amat mujarab untuk membuat ikan tergelepar di permukaan. Sayangnya, belum sempat kami menghaluskan akar tuba dan menaburkannya ke kangai, Yunus berteriak dari atas pematang.
