“Rotam! Rotam! Gawat, Tam!” teriaknya.
Aku dan Fajri saling pandang mendengar suara Yunus.

“Ustad Mahmud, Tam! Ustaz Mahmud,” pekiknya lagi.
Sontak aku dan Fajri berjumpalitan menaiki pematang. Yunus tampak gemetar saat menunjuk arah gumuk. Bertiga kami berlarian bak dikejar kawanan singa. Setibanya di sana, aku mendapati Ustaz Mahmud tergeletak tepat di samping sumber mata air. Ada sebilah kapak menancap di kepalanya. Yunus cerita kalau mendengar erangan minta tolong lalu bergegas memanggilku di kangai.
“Ini kapak siapa, Tam?” kata Yunus gemetar.
Aku tak menyahut. Sama sekali tak sanggup berujar apa-apa lantaran teringat pemandangan semalam, saat tamu Ustaz Mahmud merogoh saku belakang, aku melihat mata kapak menyembul dari balik bajunya.
***
Kini, mendapati cerita ini bergulir dari Bapak, aku tak kalah menitikkan air mata mengingat semalam ada yang bertamu ke rumah. Keduanya adalah utusan proyek yang merajalela di padukuhan. Kedua lelaki itu meminta Bapak melepas gumuk lantaran hanya gumuk dan ladang Bapak yang belum berkenan dijual, sementara yang lain telah pindah tangan dan berubah menjadi perumahan.
“Kamu itu jangan keras kepala, Tam. Sudah cukup apa yang dialami Ustaz Mahmud jadi pelajaran,” kata lelaki itu seraya menaruh kapak ke atas meja.
Kau tahu, tamu semalam adalah Fajri dan Yunus. Keduanya adalah cukong tambang gumuk, dan kapak yang diperlihatkan itu adalah kapak yang menancap di kepala Ustaz Mahmud.
Keterangan:
Gumuk adalah bukit yang bertebaran di wilayah Jember utara dan timur. Menurut catatan sejarah, gumuk ini berasal dari endapan yang disebut hillocks. Perkirannya terjadi ketika Gunung Gadung aktif sekitar 40.000–100.000 tahun yang lalu, jauh sebelum Gunung Raung aktif seperti sekarang.
*Cerpen peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri 2024.
