“Ideologi keagamaan dengan narasi janji-janji surga merupakan contoh faktor daya tarik atau pull tadi,” ujar Mujtaba. Sementara, keadaan sosial-politik-ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi atau harapan bisa menjadi daya dorong atau push factor ekstremisme dan terorisme.
Mujtaba mengakui bahwa setidaknya dalam dua tahun terakhir tidak terjadi serangan terorisme di Indonesia. Hal ini menjadi indikasi bahwa program pencegahan dan penanggulangan ekstremisme dan terorisme di Indonesia relatif berhasil.

“Namun harus diingat, meskipun tidak ada serangan, tapi penangkapan-penangkapan terhadap terduga teroris masih terus terjadi. Ini membuktikan bahwa ancaman itu masih ada,” jelas Mujtaba.
Hal senada diungkapkan Dionnisius Elvan Swasono. Ia juga memaparkan keberhasilan RAN PE yang mencapai 97,8 persen. Atau, dari 135 rencana aksi, sebanyak 132 telah diimplementasikan. Rencana aksi pencegahan dan penanggulangan ekstremisme dan terorisme yang melibatkan multipihak, menurutnya, cukup berhasil.
Sebagai bukti, Dionnisius menunjuk kian melemahnya jaringan dan logistik terorisme. “Kekuatan logistik dan jaringan mereka terus melemah. Saat ini mereka sudah sangat lemah. Namun, yang masih sulit dideteksi adalah munculnya single actors dari self radicalism. Ini yang sulit,” jelas Dionnisius.
Ia sepakat bahwa ekstremisme dan terorisme tergolong bahaya laten yang akan terus ada sepanjang faktor-faktornya mendukung. Karena itu, ia berharap pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto melanjutkan RAN PE ini ke fase kedua.
