Emak, Nasi Goreng Bawang, dan Sekelebat Ingatannya

“Buat apa kalian berkumpul, mau minta warisan? Kalian ‘kan tahu, Emak tak punya apa-apa.”

Kedua bola mata Emak berkaca-kaca. Ada samudera bening menggantung di sudut matanya. Aku masih mematung di pinggir pintu kayu, menunggu bulir itu jatuh. Sementara dadaku menahan gemuruh. Sepiring nasi di hadapannya tak disentuhnya sama sekali. 

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Apakah menunggu Emak meninggal dulu, baru kalian mau menjenguk Emak?”

Ucapan Emak makin membuat dadaku sesak. Aku tak berniat menjawabnya, karena bila sudah seperti ini, Emak pasti tak ingin dibantah. Sementara di ruang tamu, ketiga abangku juga berkumpul. Ya, aku, Bang Ali, Bang Bambang, dan Bang Cahyo sama-sama pulang saat mendengar kabar Emak sudah tua dan sakit-sakitan.

Aku pun diutus ketiga abangku untuk membujuk Emak, karena memang akulah anak kesayangannya. Bukannya membeda-bedakan anak, hanya saja karena aku anak terakhir, jadi Emak sedikit memanjakanku. Namun, Emak tetap sayang dengan kami semua.

Semasa kecil kami hanya tinggal bersama Emak. Bapak menikah lagi dengan janda kaya saat usiaku baru tiga tahun. Kehidupan kami sangat memprihatinkan, apalagi Emak harus merangkap menjadi ibu sekaligus bapak. Penghasilannya sebagai buruh di ladang orang hanya cukup untuk makan dan uang sekolah kami berempat. Beruntung, aku dan ketiga abangku bisa tamat SMA berkat kerja keras Emak.

Kini, Emak sedang marah. Namun, marahnya bukan karena kami nakal atau tak mau dinasihati seperti dulu, tetapi karena Emak merasa ditelantarkan oleh anak-anaknya. Emak memang hanya tinggal sendirian. Meski memiliki empat putra, satu per satu anak Emak pergi merantau. Ketiga abangku telah berkeluarga, sementara aku sebentar lagi juga akan menikah. Kesibukan pekerjaan telah membuat kami jarang mengunjungi Emak.

Atas berbagai bujukan dan permohonan, lama-kelamaan akhirnya Emak pun mau menerima kami berempat di rumahnya. Aku menyuapinya kemudian menemani Emak tidur. Kutatap lekat-lekat guratan di wajahnya yang sangat kentara. Sebagian rambutnya pun telah beruban. Betapa waktu begitu cepat berlalu. Emak sudah renta. Rasanya baru kemarin Emak memaksa Bang Ali meminum beras kencur agar bisa nafsu makan, memarahi Bang Bambang saat pulang main dengan kondisi baju kotor, atau mengajari Bang Cahyo yang sulit memahami hitung-hitungan. Kalau diriku hanya bisa tertawa cekikikan melihat mereka dimarahi. Aku jarang sekali mendapat omelan Emak, karena aku tidak pernah membantah ucapannya dan paling rajin dibandingkan ketiga abangku. Ah, betapa aku merindukan masa-masa itu.

***

Pagi-pagi sekali, asap dapur menelusup hidung hingga membangkunkanku dari lelap. Sementara di samping kanan dan kiriku, ketiga abangku masih mendekur pulas. Kami tidur di ruang tamu dengan menggelar tikar, berhubung hanya tersedia satu kamar tidur, yaitu kamar Emak. Segera aku menuju dapur untuk memastikan apa yang terjadi. Dalam kesejukan Subuh, kulihat Emak sudah berkutat di sana. Menghadap tungku kayu untuk menjaga agar apinya tetap terjaga sekaligus mengupas bawang. Aku pun menghampirinya, takut terjadi apa-apa dengan Emak.

Hei, Don, sudah bangun rupanya. Memang, kau ini anak Emak yang paling rajin di antara abang-abang kau itu,” ujar Emak semringah setibanya aku di dapur. Emak menghampiri dan mengelus rambutku yang masih berantakan.

Ada sedikit kelegaan dalam diriku, melihat Emak sudah sehat dan tidak murung lagi. Emak meracik bumbu dengan cekatan, sementara aku hanya duduk di kursi kayu tua sembari melihat tingkahnya yang masih sama seperti dulu. Ah, lagi-lagi aku merindukan masa kecilku. Betapa aku ingin kembali pada masa itu. Apalagi aroma dapur Emak yang masih tetap sama: bau asap dapur yang menyeruak disertai aroma nasi goreng bawang buatannya.

“Jangan melamun kau. Mandi sana, nanti terlambat sekolahnya!” Tiba-tiba Emak membangunkan lamunanku.

Dahiku mengernyit heran.

Tinggalkan Balasan