Di kota yang tak pernah benar-benar tidur itu, Farhan hidup di antara suara kendaraan, gedung-gedung tinggi, dan jadwal kerja yang selalu terasa sempit. Ia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi yang menuntutnya berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Hari-harinya dipenuhi rapat, laporan, dan telepon yang hampir tak pernah berhenti berdering.
Di sela kesibukan itu, ada satu nomor yang sesekali muncul di layar ponselnya nomor rumah di kampung. Nomor itu milik ibunya. Setiap kali Farhan sempat menjawab, percakapan mereka hampir selalu sama. “Farhan sehat, Nak?” suara ibunya selalu terdengar lembut, seperti angin yang melewati halaman rumah mereka di desa. “Sehat, Bu. Ibu sendiri bagaimana?” “Ibu baik. Jangan lupa makan, ya.”

Percakapan itu jarang panjang. Farhan sering sedang terburu-buru. Kadang ia menjawab sambil membuka laptop atau menandatangani dokumen. Namun sebelum telepon ditutup, ibunya selalu mengucapkan satu kalimat yang sama. “Ibu kirim Fatihah untukmu.” Farhan biasanya hanya tersenyum kecil.
“Iya, Bu. Terima kasih.” Setelah itu telepon berakhir, dan Farhan kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan kalimat itu. Baginya, itu hanya cara sederhana seorang ibu menunjukkan perhatian.
Waktu berlalu cepat di kota. Proyek baru datang silih berganti. Farhan semakin jarang pulang ke kampung. Bahkan pada hari raya, ia pernah sekali memilih tetap tinggal di kota karena pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Ibunya tidak pernah mengeluh.
Ia hanya berkata, “Kalau belum bisa pulang, tidak apa-apa. Ibu kirim Fatihah saja untukmu dari sini.” Farhan selalu merasa semuanya baik-baik saja. Ia mengirim uang setiap bulan. Rumah di desa sudah diperbaiki. Kebutuhan ibunya tidak pernah kekurangan. Dalam pikirannya, itulah bentuk bakti yang cukup.
Suatu sore, telepon dari rumah kembali datang. Farhan baru saja keluar dari ruang rapat. Suara ibunya terdengar lebih pelan dari biasanya. “Farhan sedang sibuk?” “Sedikit, Bu. Ada apa?”
