Fenomena Tahfiz Al-Qur’an: Antara Hafalan dan Pemahaman

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan fenomena yang sangat baik sekaligus menarik. Yaitu, lahirnya banyak pesantren atau lembaga tahfiz di berbagai daerah. Hampir di setiap kota, bahkan pelosok desa, berdiri lembaga pendidikan yang menawarkan program unggulan menghafal Al-Qur’an.

Fenomena ini tentu tidak lahir tanpa sebab. Ada gelombang kesadaran dari para orang tua yang ingin anak-anak mereka dekat dengan Al-Qur’an, bahkan menjadi hafiz sejak usia dini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hingga kini, fenomena itu bahkan meluas ke ruang digital. Berbagai program hafalan Al-Qur’an bermunculan di media sosial. Pengajarannya mulai dari melalui Zoom, telepon video WhatsApp maupun aplikasi komunikasi daring lainnya. Kelas-kelas online tersebut biasanya menjanjikan capaian hafalan dalam waktu tertentu. Akses yang semakin mudah ini tentu membawa sisi positif. Artinya siapapun, dimanapun, kini bisa belajar dan menghafal Al-Qur’an tanpa batas ruang dan waktu.

Sekilas, ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Bukankah dalam hadits Nabi Muhammad bersabda خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Yang artinya bahwa sebaik-baiknya kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya? Maka tidak heran jika banyak orang tua menjadikan hafalan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan agama anak. Semakin banyak hafalan, seolah semakin tinggi pula nilai keberagamaannya.

Namun di tengah euforia ini, ada satu pertanyaan yang mengusik pikiran. Kenapa belajar Al-Qur’an selalu identik dengan menghafal?

Pertanyaan ini penting, bukan untuk merendahkan para penghafal Al-Qur’an. Karena jelas itu adalah kemuliaan. Melainkan untuk meluruskan arah. Sebab, tanpa disadari, kita sedang membentuk cara pandang yang sempit. Seakan-akan tujuan utama berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah dengan menghafalnya.

Padahal, menghafal hanyalah satu bagian dari proses panjang dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Lebih jauh lagi, muncul persoalan yang cukup mengkhawatirkan. Tidak sedikit penghafal Al-Qur’an yang bahkan belum kokoh dalam dasar-dasar yang semestinya menjadi fondasi. Ada yang hafal banyak juz, tetapi belum memahami syariat dasar dalam ibadah. Ada pula lembaga tahfiz baik offline maupun online yang mengizinkan anak didiknya untuk menghafal meski bacaan Al-Qur’annya belum lancar, bahkan belum memahami kaidah tajwid dengan baik.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan